Kamis, 22 Desember 2011

Jema'ah K-popiyah

Godaan k-pop itu sangat berat saudara-saudara. Pertama kali gue pikir gak mungkin gue suka sama musik jenis ini, tapi karena racun dari salah satu temen gue yg terus-terusan nyanyi "because I naughty naughty, hey I'm mr. Simple" mau gak mau gue jadi sering searching, saha eta nu nyanyi.

Pencarian gue berakhir di youtube dengan kata kunci Mr. Simple, dan voila seketika gue tau who's the singer from the song which can't go out of my head. It's Super Junior. Video pertama: hmmm, video kedua: boleh juga, ketiga: oke nih, begitu sampe video selanjutnya. Dan sekarang gue jd tau banyak tentang suju.

Sebenernya temen gue udah duluan tau dan ngefans sama eta boyband. Dan sebetulnya deui, dari SMA, gue udah gak asing sama nama Super Junior. Dulu dari temen SMA sampe temen les, mereka adalah fans sejati K-pop. Tapi mereka gak ngefans sama Suju, melainkan sama DBSK. Emang sih dari segi suara dan gaya lebih bagus dan macho DBSK, tapi gue ngeliat suju itu personilnya lucu dan unik, terlebih pas gue udah liat Variety Show yg mereka bintangi.


Kalo diinget-inget dulu terjadi percakapan antara temen-temen gue yg penyuka DBSK untuk mempengaruhi gue yg masih gak ngarti apa-apa tentang k-pop:

Temen: ci ntar temenin gue ke stasiun ya
Gw: boleh, emang mau ngapain?
T: mau beli majalah ***** ada poster DBSK nya gedeee~
G: oowh, oke. Emang siapa sih DBSK?
T: *mulai bergerilya* ini blablabla, terus blablabla, lo mesti denger lagunya, nih fotonya...
G: hmm, asik juga! Tadi yg ini siapa aja? Eh yang ini ganteeeng~!
*oke, gue udah mulai kena virus k-pop*
T: iih~, liat deh tuh si 'anu' blablabla, dia sok-sok paling ngerti k-pop, padahal baru suka Suju.
G: suju? Siapa lagi tuh?
T: itu mah boyband baru, personilnya banyak banget, yang ganteng cuma 2, siwon sama kibum doang. Gak tau gak terlalu ngikutin sih.
G: hmmm~,

Itulah percakapan antara gue dan teman di akhir tahun 2006. Kalo diinget-inget lucu aja, waktu liat foto suju jaman dulu itu ASLI NGGAK BANGET. Bahkan yang terganteng pun gak terlihat ganteng disitu. Tapi semakin kesini oke lah, semuanya niat me make over diri jadi better look.

Dan dari sekedar nontonin videonya di youtube, gue jd sering download dan streaming variety shownya Suju. Sebenernya sih jujur gue lebih suka acara-acara yang ada merekanya aja ketimbang video-video clip/ live nya. Lucu mereka kayak ngalir begitu aja dan gak dibuat-buat. Sampe pada suatu saat di gramed gue nemu buku tentang Suju, gue penasaran dan akhirnya beli. Namun sayang, profil bias gue gak ada di dalamnya, kecewa sih cuma ya mau gimana lagi ya sudah terlanjur basah ya sudah basah sekaliii~.  

Ya pada intinya, semua orang pasti suka sama segala hal yang berbau mainstream. Gak usah lah ya jadi sok-sok an beda dengan orang lain dengan menyukai musik yang orang lain masih awam dengernya so that everybody can consider you as a cool person. Gue suka Britpop dan K-pop dan menurut gue itu gak masalah walaupun pada awalnya gue gak mengira begitu. Di dunia ini telah tercipta berbagai jenis musik dan setiap orang pasti punya selera yang relatif tidak sama pada jenis musik tersebut. Jadi kalo kata gue, gak perlu lagi mengkotak-kotakan aliran musik berdasarkan genre/umur cause music is universal.

Kamis, 15 Desember 2011

thank lord :)

"Kalau semua cita-citaku dapat tercapai, aku akan tak butuh tuhan"

Barusan itu kutipan dari status temen gue yang gue ambil karena gue pikir, ini keren. Bisa aja dia sampe mikir kearah sana, karena selama ini kita selalu berpikiran untuk menyalahkan Tuhan kalau ada keinginan kita yang tidak terlaksana. Gue sempet butuh 10 detik untuk baca dan ngerti isi pesannya, yes can't agree more bout that!

Bayangin, lo gagal mewujudkan apa yang lo cita-citakan sedari kecil. Let's say dulu lo bercita-cita jadi Dokter, Pilot atau Artis. Tapi lo harus terpaksa puas dengan profesi dan keadaan lo sekarang. Lo gagal tes jadi pramugari, gagal lulus SNMPTN, gagal punya pacar artis, itu semua adalah hal-hal yang sebenernya nggak lo harapkan terjadi di hidup lo. Mana ada sih orang yang pengen gagal, cuma karena garis takdir udah bilang begitu, maka lo harus begini, umur segini lo begini dan begini dan itu nggak akan bisa berubah. Hidup nggak kayak sinetron primetime di TV, supaya banyak orang yang tertarik dengan diri lo, terus lo ubah skenario hidup lo menjadi lebih panjang dan more dramatic dan pada akhirnya diakhir cerita lo dapet yang namanya happy ending. Nggak ada yang bisa ngatur dan nawar nasib, like proverb says: manusia menjalankan tuhan yang menentukan.

Terus apa yang bisa lo lakuin dihidup lo? Apalagi sih yang manusia bisa lakuin selain nyesel diakhir sesuatu? Nyesel karena salah ambil jurusan kuliah, nyesel karena salah pilih perusahaan, or whatever other regret. The other option is nyalahin tuhan, "kenapa begini? Kan hamba maunya begini. Padahal hamba udah usaha begini begini..." Blablabla, itu pasti keluhan yang dikeluarin manusia setiap kali berdoa. Padahal yang nggak mereka tau, tuhan itu bukan costumer service yang tiap hari dengerin keluhan terus-terusan.

Kalo mau dipikirin lagi, yuk coba bayangin kalo semua apa yang lo pengen terkabul, apa yang lo lakukan sukses, lo mungkin nggak akan kenal tuhan. Orang yang terus-terusan sukses akan lupa berdoa dan bersyukur, karena sukses udah jadi kebiasaan dia. Tapi apa mungkin ada manusia yang hidupnya sukses 100%? Mungkin itulah alasan tuhan untuk menunjukan eksistensinya. Saat gagal, manusia dapat mengingat tuhan dengan berdoa agar tujuannya bisa tercapai, saat berhasil, manusia juga dapat mengingat tuhan dengan cara bersyukur setiap mendapat berka. Tapi untuk yang terakhir, manusia biasanya lupa sih buat bersyukur, yang ada malah pengen tambah nikmat lagi dan lagi seakan nikmat seluas lautan nggak cukup buat dia. Yap, manusia emang udah ditakdirkan bersifat seperti itu

Intinya,  Pandangan kedua mata lebih jelas dibanding pandangan satu mata tertutup. selalu melihat dua sisi dari sesuatu itu penting. Jangan hanya ngeliat dari sebelah sisi. Melihat suatu kagagalan hanya dari sisi negatif cuma akan menimbulkan efek yang lebih negatif, macem skeptis sama tuhan, stress, nyerah dll. Tapi dengan mengambil sisi positifnya juga kelak akan membuat kita belajar dan terpacu untuk tidak akan mengulang kesalahan yang sama dan bisa memperbaiki jalur kedepannya.

Minggu, 11 Desember 2011

Badai Pasti Berlalu, tapi kapan?

Rasanya kaya ditampar waktu liat bapak-bapak pembersih kampus masih bisa senyum dan terima pekerjaan dengan segala kekurangannya, sedangkan gue dsini, kerjaannya cuma baca nulis, duduk dikelas dan natap layar monitor harus ngeluhin setiap hal yg terjadi setiap hari.

Lama-lama jadi eneg aja sama keluhan diri sendiri yang begini-begitu, selalu ngerasa masalah pribadi itu lebih besar, lebih urgent dibanding masalah orang lain and becoming a dramarama. Nggak heran mungkin tuhan mencoba ngingetin gue dengan semua ini bahwa, didunia ini bukan cuma ada kita doang. Tuhan punya banyak hamba, dan kita harus nunggu agar doa kita dihijabah oleh tuhan. Ibaratnya lagi ngantri tiket kereta, cepet atau lambatnya jalan antrian tergantung amal dan ibadah, no doubt about that.

Satu pelajaran penting, jangan suka lebay sama masalah sendiri, justru harusnya bersyukur kita diberi cobaan yang masih dalam batas kemampuan kita. Percaya badai ini pasti berlalu. hwaitiiing~! 

Senin, 14 November 2011

WISUDA PASTI BISA!

Hari ini hidup gue produktif sekali. Pagi ini gue bangun jam 7, sangat pagi sekali untuk ukuran gue. tanpa sempat sarapan gue langsung pergi ke kampus walaupun hari ini tidak ada perkuliahan sama sekali. Semua itu gue lakukan demi apa? ya demi kelancaran proses metamorfosis dari tahap Seminar-Proposal-Skripsi. Hari ini gue menghabiskan banyak waktu di Perpus Kampus. Rencana mau minjem buku A yang menunjang teori di Propos gue, eh malah ternyata nggak ada karena sedang dipinjam. Ternyata biaya perpanjangan kartu anggota perpus di kampus gue itu mahal sekali, 25k/ person and seketika gue langsung bokek tak terkira.

Dengan menganut asas "Idle Minds Are The Devil's Workshop" gue menjadikan setiap hari di hidup gue menjadi hari berpikir dan bertindak mulai detik ini. Pokoknya dalam hal apapun, gue berusaha untuk tidak nganggur barang semenitpun. Susah sih emang buat ngilangin rasa malas, ya cuma emang udah waktunya buat gue ngilangin segala setan yang menggangu. Proposal gue UDAH JADI akhirnyaaa~, emang segala sesuatu tuh harus dimulai dengan niat yang tulus dan target. Jangan kebanyakan rencana dan lakukan yang menurut lo bisa dan harus lo lakukan. Padahal baru seminggu kemaren gue ngerasa males buat nyelesaiin baca buku, tapi semua harus dimulai dengan SPIRIT yang Luar Biasa untuk menyelesaikan itu semua. Alhamduuuu~ lilaaah ya allaaah~ :">

ps: doakan gue supaya jangan keasikan ngenet dibanding nugas ya untuk hari-hari selanjutnya...

ROSSI HWAITIIIINNGGG~!!! \m/

Minggu, 06 November 2011

tidak seindah kisah di FTV, kawan!

Jumat emang hari yang bikin maleeeees banget buat ngapa-ngapain, well mungkin emang guenya aja yah yang males, but hey! Thank god it's friday. Hidup gue emang selalu dengan rencana. Diotak gue sibuk untuk memprogram hari esok dengan pelbagai rencana-rencana matang, tapi hasilnya, keesokan harinya hanya 20% dari peta rencana yang berhasil dijalankan.

Kemarinnya sih gue berinisiatif untuk pergi ke perpus jumat pagi dan berdiam diri disana sekitar 2-3 jam untuk mencari referensi skripsi. Namun apa daya, rencana tinggal rencana, gue bangun kesiangan dan kondisi badan gue pagi ini lumayan lemes. Walhasil jumat pagi hanya diisi dengan bangun-kamar mandi-beli sarapan- buffering-buffering-ngenet sampe siang. Sungguh tidak produktif sekali diriku kawan!

2 hari lagi kan Lebaran Haji, makanya minggu ini gue berpikir buat balik lagi ke bekasi. Itu sih sebenernya bukan rencana, bisa dibilang dadakan malah. Dan setelah jam 12 gue bersiap berangkat ke Leuwi Panjang. Cuaca siang ini mendung sedikit gerimis, tapi gue tetap melangkah pasti menuju pangkalan Damri. Kesan pertama gue adalah "woanjiiir, dapet damri kaleng deui!" Tapi yah mau namanya nasib, udah leha-leha duduk lucu di pojok bis, tiba-tiba disuruh turun soalnya ban bisnya gembes, ya akhirnya turunlah semua penumpang yg entah kenapa hari ini penuhnya melebihi kapasitas. Ternyata dibelakang udah standby bis Elang baru yang AC, wow! Pasti lebih nyaman tapi hey, penumpangnya banyak, gue harus berjibaku dengan perempuan-perempuan seusia gue demi memperebutkan kursi Pewe di Bis Maha nyaman ini.

Seperti yang bisa diduga, dalam setiap pertempuran ketangkasan adu-cari-tempat-duduk ini gue selalu kalah, dan akhirnya gue dapet duduk di kursi PALING BELAKANG. Tadinya gue gak begitu memperhatikan kehadiran cowo disebelah gue, yang akhirnya gue sadar cowo itu sama-sama berebutan naik bis sama gue tadi, tapi akhirnya dia ngalah dan mempersilahkan gue dan cewe-cewe untuk naik duluan (oh so gentlemen).

Karena males berebutan kursi, akhirnya gue cuma menjangkau kursi yang dekat dari jarak gue, kursi paling belakang yang sebelah gue adalah babeh-babeh yang sedang menelepon manja. Dalam hati "shit, salah duduk ini ya" ditengah kegelisahan salah ambil posisi tiba-tiba sebelah gue duduklah si mas-oh-so-gentle barusan. Auranya positif; putih, bersih, tinggi, wangi lagi. Dari apa yang gue curi pandang, doi lumayan good looking, and yes blessing me he sit beside me, mepet pula, yahii! (Sifat cunihin gue mendadak muncul)

Yang namanya gue, pasti selalu clumsy. Gak sama orang yang disuka aja, sama siapapun kalo situasinya canggung, gue suka kikuk sendiri. Gue merasa apa yang gue lakukan salah dan jelek, jadinya gue sering sekali merubah posisi duduk, tangan dan kaki in order to get the comfortable position. Gue seneng, dalam hati gue ngarep "semoga mas ini juga turun di leuwi, terlebih naik Primjas bareng sampe bekasi.." Doa gue begitu berlebihan siang itu. Semua berjalan begitu menyenangkan, dalam jarak 1km gue duduk nyaman sambil mencium aroma surga, tapi untung tak dapat ditolak malang tak dapat di hadang, mungkin karena sifat dia yang oh-so-gentle dia kembali ngasih duduk ke bapak-bapak tua yang emang sih lebih membutuhkan. "What, ini gak mungkin gue udah dalam posisi the best inih, kenapa tiba-tiba harus..." Ah nggak banget sekarang sebelah gue bapak-bapak yang entah kenapa duduknya semakin makan tempat.

Yaaah, sekarang dia berdiri dan membelakangi gue. Pas dia duduk aja gue gak berani ngeliat mukanya kayak apa, lah sekarang pandangan gue dihiasi dengan punggungnya doang (hell!). Yaah sepanjang perjalanan sampe gue turun sih begitu aja. Harapan untuk turun dan sebis di Primjas harus pupus begitu saja karena ternyata dia turun sesudah gue.

Begitu mengetahui kejamnya kenyataan gue shock, haruskah orang-orang good looking cuma lewat gitu aja di hari-hari gue tanpa ada bekasnya sama sekali? #eaaa. Fin, selesai. Cerita ini jika difilmkan tidak akan bagus hasilnya --

Kamis, 03 November 2011

Payung. Ilang. Sedih

Kalau sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga...

Setelah pertama-tama gumbira dengan membawa sejuta kenangan setelah berwisata ke Bali tapi masih aja ada yang ganjel, gue masih belum bisa melepas kepergian payung gue yang hilang di salah satu rumah makan kecil Bedugul. Astagaaa~ itu bener-bener payung kesayangan gue, payung (yang dibilang orang) mahal dengan berbagai fitur dan kelebihan yang oke untuk seonggok payung. Payung yang setiap hari gue taro di tas yang menemani setiap perjalanan bolak-balik kampus-kosan sampe keluar kota. Payung yang selama ini gue anggap cuma sebagai payung biasa yang berfungsi menaungi gue dari basahnya hujan ternyata makin kesini gue makin menyadari bahwa payung gue itu spesial.

Dari segi warna dan motif, payung berwarna putih gading bermotif polkadot kecil warna-warni mengesankan bahwa pemiliknya seorang yang polos dan ceria, sedangkan dari bentuknya, payung minimalis tersebut hanya mampu menaungi satu orang saja saat hujan, walaupun sering dibilang payung egois, tapi tetep aja payung tersebut dapat mengatakan kepada orang yang numpang payungan secara implisit untuk membawa payung sendiri dari rumah dan tidak ikut-ikutan nebeng payung orang lain. Sedangkan kerangka besinya sangat kuat dan ringan, jadi kalau dibawa sama sekali nggak kerasa berat di tas. Pernah suatu saat Jatinangor dilanda hujan lebat dan angin semi badai, payung itu telah lolos uji dengan berhasil menaungi gue tanpa penyok sedikitpun sampe tempat tujuan.

Walaupun sekarang udah ada payung pengganti, semua nggak bisa gantiin payung yang sebelumnya. Walaupun yang sekarang payungnya lebih besar dan dapat muat banyak, tapi payung sekarang lebih berat dan susah buat di kait (payung lipat). Walaupun udah dicari yang kayak sebelumnya tapi gue gak bisa nemu lagi payung yang model dan motif payung polkadot tea. Sampe sekarang gue masih kebayang kenapa bisa sampe maha pikun kayak gitu ninggalin payung ditempat orang. Pasti orang yang nemuin payung itu sangat beruntung soalnya payung itu belom rusak barang secuilpun. Kalau cuma ketinggalan di Kampus atau di Bandung mungkin masih sempet gue usahain supaya nemuin lagi, tapi ini ilang di Bali, yang kesananya aja mesti naik-turun pesawat, ditambah mesti di rumah makan kecil di daerah Bedugul.

Pokoknya, kalau payung itu bisa baca tulisan ini,
tu me manques. vraiment...

Le paresseux peut changer devenir la maladie!

Hari ini, masih berkutat dengan tugas kuliah, yang tetap ada sampai kapanpun gue kuliah (yaiyalah). Tugas numpuk, tapi belum ada niat buat mengerjakannya. Hmm, kadang suka nanya, kenapa gue ngambil kuliah ini, sastra perancis. Belajar membaca, menulis dan mengerti apa yang terkandung dalam bahasa dan budaya negeri victor hugo tersebut ternyata sangat susah, terlebih buat para debutant (pemula) yang sebelumnya nggak punya basic sama sekali tentang bahasa ini. Perkuliahan tata bahasa atau bahasa gaulnya grammar, dan apa itu ya tuhan, semua benda yang mempunyai jenis kelamin! Gimana bisa tau tuh benda berjenis jantan atau betina belom lagi puluhan tenses berbeda yang bahasa sananya beristilah temps concordance. Beruntunglah indonesia nggak kenal apa yang namanya waktu lampau, waktu sekarang atau waktu masa depan, kalo nggak, mungkin rakyat indonesia lebih memilih berkomunikasi dengan bahasa daerahnya aja karena bahasa nasionanya terlalu sulit untuk dipahami dan dipelajari.

Soal pelafalan, gue emang terpana waktu liat samuel rizal ngomong basa perancis di film nya yg sensasional itu. tapi pada kenyataannya itu SUSAH SEKALI karena apa yang ditulis itu tidak sama dengan apa yang diucapkan. Huruf R dibaca lebih ngegigit serta suara sengau yang (katanya) banyak orang bilang itu sexy. Jurusan ini jg terkenal sebagai jurusan yang paling sulit untuk meluluskan mahasiswanya. apakah itu benar? Tapi itu semua nggak terlepas dari niat dan kerajinan mahasiswa itu sendiri sih. Kadang gue sendiri ngerasa paling bego dikelas. Tapi dipikir-pikir lagi gapapa sih, pinter bukan jaminan lulus cepet kan. "Orang bodoh mesti rajin" quotes itu yang masih gue pegang sampe sekarang karena ungkapan klasik bilang kalo orang itu pada dasarnya nggak ada yang bodoh, tapi mereka ketinggalan karena mereka malas. Pertanyaannya, bagaimana cara menyelesaikan masalah malas ini? malas ngerjain tugas, males kuliah pagi, males baca buku pengantar kuliah, kerjaannya internetan terus. Sampe sekarang gue belom nemu jawaban atas pertanyaan gw diatas...

Senin, 17 Oktober 2011

Blurism




Tau kan band yang satu ini? yap, it's BLUR. digawangi oleh frontman Damon Albarn, gitaris Graham Coxon, Bassis Alex James dan Drumer Dave Rowntree ini begitu populer karena kontribusinya atas kemunculan era Britpop dipertengahan tahun 90an. Blur juga merupakan saingan berat Oasis pada saat itu. Ditahun 1995, merupakan tahun bersejarah bagi Blur, single "country house" mereka sukses menduduki posisi chart terpopuler UK mengalahkan single milik Oasis berjudul "roll with it". Persaingan mereka bisa dibilang sangat sengit karena frontman dari Oasis yaitu Noel dan Liam yang sering membuat statement kontroversial disetiap wawancara dengan media, bahkan yang dikomentari sinis bukan hanya Blur saja, namun juga Band dan Penyanyi lainnya yang tidak disukai oleh mereka.


Buat gue, yang bisa dibilang lumayan telat saat resmi menjadi fans mereka, sangat amat menyukai band ini sampai sekarang. Dimulai dari waktu SD, saat itu adalah zaman keemasan dari MTV, zaman dimana saat itu channel musik televisi itu masih menayangkan acara-acara musik yang intens dan menarik seperti MTV land, MTV Most Wanted, MTV fresh dll. Gue yang saat itu adalah bagian dari sekte anak nongkrong MTV, setelah pulang sekolah hobi menonton acara Most Wanted yang berisi acara musik dimana orang-orang mengirimkan request lagu dan lalu VJ mereka membacakan dan memutarkannya setelah becanda-becandi terlebih dahulu. Dan saat itu salah satu anak nongkrong request lagu Blur yang Song 2, dan pada saat liat video klipnya, alamak! love at first sight sama si om Damon dan om Graham yang saat itu sedang ranum-ranumnya.


 
*ya, kenapa fotonya harus megang pisang 22nya juga ya?--



setelah itu, gue makin loyal sama MTV, tiap acaranya selalu gue tonton, karena gue pengen liat lagi video klip Song 2, itu juga karena berhubung Youtube belum ditemukan saat itu juga sih, jadi rada prestige aja kalo berhasil liat video klipnya dari awal sampe akhir. Voila, waktu itu video Coffee and TV muncul, dan sampe sekarang bener-bener terpatri banget diingatan gue every detail that milky did on that  video. Semakin hari gue semakin rajin nonton acara MTV, tapi jarang-jarang banget video klip itu diputerin, akhirnya karena abis dari album 13 nya, mereka sempet setengah vakum dan MTV makin aja jarang muterin lagunya, dan gue pun sukses menjadi aliran mainstream dimana saat itu gue adalah fans berat boyband seperti Backstreet Boys, Wetlife, N*sync dll, gue sangat menyalahkan lingkungan gue saat itu dan sifat kelabilan gue yang mau-mau aja jadi aliran mainstream.


lalu ditahun 2009, gue mulai CLBK lagi sama band ini setelah mendengar seluruh album (yang gue pinjem sih) ini:



*best of blur--


yah, till now i'm still under their spell, kalo orang-orang lain baru berlevel fans, mungkin gue udah berhak dapet badges worshiper mungkin. Lagu-lagu mereka yang buat gue gampang diinget, lirik yang nggak gampangan, aransemen musik yang lumayan rumit, ide-ide jenius, dan tampang mereka yang cutest-cutest adalah salah lima alasan kenapa gue suka musik mereka. Band yang berasal dari Colchester, Essex ini juga anti Mainstream, mereka juga yang mempelopori aliran Britpop dengan trilogi albumnya (Modern Life Is Rubbish, Parklife and The Great Escape). Tapi sayangnya saat akhir album Think Tank tahun 2003, mereka lalu vakum, dikarenakan guitarist mereka, which is one of my favorite left this band. i don't know what sort of reason so that om Graham was not in this band anymore. But, blessing us (all blur's fans) tahun 2009 kemarin THEY REUNITED. wish i could attend their giant gig. 


Tapi ada sayangnya lagi nih, semenjak gigs reunion di Glastonburry July 2009 lalu, mereka nggak terlihat akan membuat album/single baru lagi, padahal fans mereka diseluruh dunia pasti udah nunggu-nunggu tuh. Yah kita berdoa aja yang terbaik for them, semoga masing-masing personilnya nggak terlalu sibuk dengan solo career nya sendiri dan cepat-cepat membuat fans mereka gembira, cause hey, we really need your new records.

Minggu, 16 Oktober 2011

Jadul vs Mainstream

Pernah denger lagunya Katon Bagaskara yang Pasangan Jiwa? Mungkin yang belum tau bisa gue kasih liriknya dibawah, untuk audionya silahkan bisa diunduh sendiri di 4shared atau liat video clipnya di Youtube.

Kadangkala aku bertanya di mana cinta berada
Tersembunyi tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu di danau biru bercumbu
Pagut sepi ku di sini letih hati

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Kadangkala aku berkhayal seorang di ujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan

Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayun biduk kecil
Hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan

Aku berkhayal... Oh...

Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang

Biduk kecil hampa berlayar, akankah berlabuh
Hanya diam menjawab kerisauan, oh...

Mungkin bagi para temans yang merasa gemas sama lirik lagu itu, well let's say gemas kesel karena merasa kesindir, atau yang merasa gemas seneng kalau lagu itu mewakili perasaan atau istilah kerennya "gue banget". This song has meaningful lyric. Bisa dibilang ini lagu tentang orang-orang yang bertanya dimana sih jodoh/ belahan jiwanya berada, karena sampai sekarang belum ketemu-ketemu. Lirik yang jenius ditambah aransemen musik yang bikin terbius ngebuat gue jatuh cinta sama lagunya. Yah walaupun banyak yang bilang, lyricnya so mellow and cheesy, kesannya desperate or something. But hey, I like it, no matter how was their reaction to me.

Jauh beda kalo diperhatiin lagu zaman sekarang dan lagu zaman dulu, yang zaman dulu tuh liriknya lebih bersifat sajak dan nggak gampangan, nggak kayak sekarang yang liriknya terang-terangan dan memakai bahasa vulgar yang kalo menurut gue sih rada kurang dalam segi estetika permusikan sih. Coba perhatiin lirik lagu Armada yang Mau Dibawa Kemana sama lagu Kla Project yang terpurukku disini,

"mau dibawa kemana, hubungan kita? ku tak akan terus jalani tanpa ada ikatan pasti”


"Terpurukku disini diayun bimbang sikapmu terhempas dan hempas tak terkira"

*well, semua lagu ini punya inti tentang kebimbangan suatu hubungan, tapi yah bisa liat sendiri dari segi teknik pemilihan katanya. Ditambah lagi soal aransemen musik, ya bisa dinilai sendiri kan yah*

Kasus kedua, coba dengerin lagu Bagindaz "c.i.n.t.a" sama Ebiet G Ade "cinta sebening embun"

"Berapa kali kuharus katakan cinta? Berapa lama kuharus menunggumu? Namun dirimu masih begitu acuhkan kutakmau tau"

"Pernahkah kau coba membaca, sorot mata dalam menyimpan rindu, sejuta impian, sejuta harapan, kenapa mesti engkau abaikan?"

*Haha, gotcha! Lagi-lagi masalah di lirik dan pemilihan kata. Sebenernya sama sih liriknya bercerita tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, cuma ya itu, menurut gue kata-kata puitis dijadiin lirik lagu itu indah loh, dan susah lagi memadumadankan kata-kata yang yg punya rima sama.

Jadi menurut gue, gue tau lagu mana yang akan gue pilih dengan predikat lebih bagus. Tapi tetep lah gue hargain karya-karya seniman zaman sekarang karena gue tau sebenernya bikin suatu karya, terutama karya musik itu nggak segampang dan secepet orang ngabisin semangkok indomie rebus. Kalo bikin musik yang karyanya standard aja begitu susah, apalagi yang menghasilkan karya yang berkualitas ya?

Untuk kamu yang terkamu

Untuk kamu,

Kamu, yang kurang lebih melalui ratusan hari bersamaku,
Kamu yang bersamaku karena tak sengaja,
Kamu yang awalnya tidak aku harapkan,
Tapi ternyata kamu yang paling lama bisa bertahan denganku

Tolong dengar,
Bukan cuma aku yang ingin,
Bukan cuma kamu yang salah,
Tetapi memang jalan ini sudah tidak bisa dilalui lagi,

Tidak akan lupa,
Tidak mudah lenyap,
Semua bagai melebur diudara.
Yang menyatu menjadi oksigen yang kuhirup.

Melewati bersama,
Musim penghujan dan kemarau,
Landasan terjal dan landai,
Sampai pada saatnya berada ditepian.

Selamat tinggal balon hitamku,
Tidak semua mimpi bisa terwujud
Sesorang harus membangunkanmu dari belenggu imaji
Tidak semua harapan dapat terkabul.

Second grade great feeling

Pernah nggak sih kalian ngerasa jatuh cinta sama seseorang tapi bukan atas nama pandangan pertama? Semacam perasaan suka yang muncul karena lo terus bersama dan karena terbiasa ketemu, kalo menurut peribasa jawa namanya "witing tresno jalaran soko kulino" yang artinya kurang lebih cinta datang karena seringnya intensitas bertemu. Gue pribadi lebih percaya tipe cinta kayak gini, dan menurut gue cinta macem ini terjadi pada orang-orang yang mempunyai kecakepan KW 2, like me naturally.

Jadi, awal mula ceritanya adalah ketika gue masih duduk manis di kelas 2 SMP. Sebenernya nggak ada kenangan manis-manis amat yang tersisa dimasa SMP, karena saat itu gue termaksud tipikal orang sedikit semi antisosial. Jujur, waktu SMP temen deket gue sangat dikit, bahkan bisa diitung pake jari, mungkin karena gue ngerasa kurang nyambung aja ngobrol sama yang lain. Ditambah ada sebagian orang yang mungkin gue anggap sebagai duri di landasan tempat gue berpijak saat itu, it's freaking me out when they suddenly got closer to me, and I became more terrible in order to protect me from everything that I don't like. SMP gue waktu itu adalah SMP yang tidak gue harapkan sama sekali, yap, SMP swasta dimana SMP dan SMA bergabung didalam satu gedung.

Masa SMP gue bisa dibilang sangat sulit, ditambah dengan kendala jarak rumah ke sekolah gue tang bisa dibilang dari ujung-keujung, nggak ada hari sesial dan senestapa hari-hari kelas 1 , ditambah waktu itu kelas gue kebagian masuk pagi. Menjelang kelas 2, perputaran roda, kali ini kelas gue kebagian masuk siang, and believe me this is worse than what you can imagine. Tapi mungkin tuhan berencana lain ya, tuhan membuat masa kelas 2 SMA gue sedikit lebih cerah dengan menghadirkan seseorang sebagai lentera hari gue yang gelap (yaks, lebay!).

Let's pretend his name is Pringga. I know him since he accidently took same angkot like me, rumahnya seperumahan sama gue ternyata. First impression, nih anak berantakan banget, semacam orang yang abis mandi lupa cukuran dan pake baju yang lupa disetrika. FYI, dia anak kelas 2 SMA, which is older 3 year than me. Dia merupakan salah satu adik kelas dari Kaka gue yang saat itu popularitasnya mengalahkan kharisma kepsek gue sendiri. Kakak gue on third grade, and she is pengurus osis terkemuka, nggak heran banyak guru dan adek kelas (anak kelas 2) yang kenal kakak gue.

Balik lagi ke Pringga, selain berantakan, dia tuh tipikal orang yang cuek dan gampang akrab sama orang, dan satu lagi dia itu orangnya humoris, banget. Waktu kelas 2 SMP itu, gue bareng sama tetangga gue yang kelas 2 SMA pergi dan pulang sekolah. Jadilah kita ber 6 pulang sekolah dengan naik angkot. Awalnya sih dia kayak nggak notice kehadiran gue sebagai seorang anak bawang di angkot itu. Kali kedua, gue sering ngeliat dia di kantin, kita cuma liat-liatan dan wuzz, nggak ada sesuatu sama sekali abis itu. Sampai tiba suatu saat, pas abis selesai solat berjamaah, tiba-tiba ada yang teriakin nama gue, pas nengok ya tuhan, itu dia manggil gue sambil senyum-senyum jijay gitu. Gosh, mimpi apa gue semalem?

Panggil-panggilan itu makin sering, apalagi kelas dia yang masih gue inget banget sampe sekarang berada di bawah lantai kelas gue. Kelasnya itu letaknya strategis banget dimana gue bisa ngeliat dia sengaja atau tidak pas mau ke kantin/masjid. Gosh, I felt there's thousand of butterflies in my stomach. Ini kali ya yang dinamain suka sama orang? Apa ini bagian dari fase pubertas? Gue nggak peduli, yang penting gue bisa setiap hari ngeliat pringga dan disapa sama dia, and believe me untuk ukuran anak SMP macem gue, disenyumin, ditegor begitu udah cukup buat gue floating sampai langit ketujuh.

Oh iya, lagu! Jadi waktu istirahat gue waktu itu pas abis solat, kelas gue mencoba canggih dengan menyetel lagu-lagu everlasting oh so 80&90's, dimana temen-temen sekelas gue yang lain nggak suka sama sekali. Tapi berhubung gue adalah 80&90 songs lover, I enjoyed that, lovely. Pas banget moment terindah gue disapa dan di senyumin Pringga, speaker kelas gue lagi mainin lagu "Nothing gonna change my love for you" nya George Brenson. Sampai sekarang, kalau dengerin lagu ini pasti bisa langsung flashback memory gitu (tsah).

Nyali gue saat itu sangat ciut, dan gengsi gue terlalu gede untuk mencoba menyapa atau sekedar senyum duluan. Gue selalu berharap gue yang dibegituin sama dia. Tapi roda nggak selamanya berada diatas, kadang dia juga pernah ketemu tanpa negor/senyumin gue. Gue kecewa berat, dan gara-gara hal sesepele itu gue bisa badmood seharian bahkan sampe rumah. Dalam hati gue mikir, salah apa ya gue sama dia? Apa ada yg aneh sama gue? Begitu terus sampai sehari, dua hari, tiga hari dan seminggu gue nggak ketemu pringga. Kangen lah pastinya, cuma kesiapa gue berani cerita? Ke nyokap sama bokap, palingan cuma dianggap cinta monyet becandaan, ke kakak gue? Nggak berani bilang banget gue tentang pringga ini, takut diunderestimatekan, ntar yang ada gue malah jadi ikutan ilfil, berabe ntar. Satu-satunya media pelampiasan perasaan gue cuma diary hijau yang gue tulis full saat-saat masa SMP gue. Hitam putih, keluhan, curhatan semua tertuang disitu. Walaupun nggak bisa dibilang artistik dan indah secara estetika (isinya full tulisan, dan tulisannya lebih acak-kadut dibanding lalu lintas kota bandung), so and on, I considered myself and my diary as a human and oxygen, simply can't live without it.

Lowest point buat gue adalah dengan harus melewati masa masa semi gelap SMP gue tanpa adanya obor penerang lagi, sampai akhirnya pas gue lagi mesen nasi uduk ibu kantin, dia dateng dengan tampang cengengesnya, dia nyapa gue. Gosh, mimpi apa semalem? Anjrit, blushed, ini gue seneng banget, cuma saat itu gue tetep berusaha buat cool, saking berusahanya, gue sampe kayak orang salah tingkah. Rupanya mungkin saat kemaren-kemaren itu dia lagi badmood, jadi gue nggak keliatan dalam indra penglihatannya. I tried to assume like that. I don't care about yesterday, yang penting pringga kembali mencerahkan hidup gue. That's enough. Lagu "thank you" nya Dido mengalun dikejauhan.

Physicly, Pringga ini nggak stunning amat, ya standarnya cowo lah, dia bukan tipe cowo basket atau anak osis yang oh-so-famous itu. Serba sedang. Tinggi sedang, gaya sedang dll. Berkacamata, tampilannya sedikit acak-acakan, dan keliatannya sih pringga ini termaksud anak nerd yang humoris. Ya kalo kata temen gue saat itu, dia juga bingung kenapa gue bisa-bisanya suka sama dia, ya cuma kan perasaan nggak bisa ditawar, sekalinya hati bilang klik, nggak bisa di unclick secara paksa juga. Tapi yang bikin gue ribet juga, ntah karena terlalu ramah atau emang dia hobi flirting, gue sempet ngeliat dia juga goda-godi temen gue. Sebel sih, tapi yaudah lah, yang namanya lagi cheesy and mellow due to love, jadi gue anggap itu bukan suatu masalah. Dia hanya mencoba bersikap ramah kali, pikir gue dalam hati.

Beranjak ke kelas 3, waktu itu semua kelas kebagian masuk pagi, dan entah kenapa, mungkin juga udah beda kelas, gue jadi jarang ngeliat Pringga lagi. Kelas dia bukan lagi dibawah kelas gue. Gue pun nggak tau dia dimana kelasnya, dan sekali lagi gue terlalu gengsi untuk sekedar mencari tau. Sampai akhirnya pertengahan semester, karena intensitas pertemuan yang semakin jarang, membuat perasaan gue ke pringga juga mulai luntur. Tapi sampai sekarang gue masih inget gimana deg-degannya gue waktu ketemu dia dikantin/di masjid, rajinnya gue masuk ke kelas, atau curi-curi waktu ke kantin pas jam pelajaran semua demi satu hal, bisa curi-curi pandangin dia. Terdengar cliche sih, cuma buat gue waktu itu dengan cuma ngeliat dia hadir disekitar gue itu udah merupakan suatu berkah. Apalagi ditambah senyuman dan teguran simpel dari dia, it realy made my days. Tapi sekarang yang kita rasa cinta butuh dari sekedar senyum dan teguran kan, ada elemen-elemen lain yang harus muncul untuk menciptakan apa yang dinamakan cinta. Yah mungkin bener kata nyokap gue, cinta jaman SMP itu nggak lebih dari sekedar cinta monyet, but I realize one thing about him, he probably was my first love at that time. Thanks Pringga, you really made my day.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Vacation: Part BALI

            Bali, siapa sih yang gak kenal kota budaya ini? siapa yang gak ngarep bisa menghabiskan masa liburannya disini? dari orang-orang domestik sampai internasional suka pergi kesini. Tapi bagi gue dan sebagian besar temen-temen gue, Bali adalah suatu impian, karena apa? karena kita belum pernah pergi kesana (duh, kasian amat ya!?) dan setelah mengalami beberapa wacana panjang tentang liburan, salah satu temen gue mengusulkan kalo tahun ini bali menjadi destinasi liburan kita. 
            Dimulai dari iseng-iseng buka situs maskapai penerbangan, kita tilik-tilik tanggal dan harga dan voila, kita nemu sesuatu yang sesuatu banget, HARGA PROMO MASKAPAI. Segera kita booking dan setelah menjalani proses pemesanan yang cukup riweuh, akhirnya tiket kita kesana confirmed untuk 9 orang untuk tanggal 5 oktober 2011. Dan untuk travel, blessing us, setelah googling berhari-hari, akhirnya kita nemu salah satu travel yang harganya cukup manusiawi. Dengan harga sekian (gak dibilang, takut dikira sombong) kita udah bisa booking travel beserta akomodasi selama 4 hari 4 malam
            Seringnya sih gue baca status temen-temen deket gue yang isinya, "Oktober, cepatlah datang!", " yeay! ready for 5 oktober" atau "Bali, we're coming!' yah kira-kira sih begitu. gue sendiri juga termaksud orang-orang yang gak sabaran, soalnya kita tuh udah ngarep-ngarep pengen liburan dari bulan Maret, setelah 7 bulan nunggu-nunggu cemas akhirnya saat yang diharapkan tanggal 5 oktober yang merupakan titik pengharapan itu akhirnya tiba juga. Namun ada satu hal yang mengganjal, salah satu temen gue batal ikut karena satu dan lain hal. Tapi itu tidak masalah, karena satu temen gue lagi mau ikut dan gantiin biaya tiket dia
            yah, yang namanya juga terlalu excited banget, jadi kita gak kepikiran kalo segala sesuatu itu pasti mempunyai 2 sisi. Kita terlalu semangat dan gembira sampai gak memikirkan sesuatu yang diluar ekspetasi. salah satu insiden yang sedikit mengotori kegembiraan liburan-bali ini adalah seorang temen gue datang terlambat pas mau take-off. Yah yang namanya nunggu siapa sih yang gak kesel? tapi kan siapa juga yang ngarep semuanya bakal kayak gitu, setelah nunggu hapir setengah jam dari jadwal keberangkatan, temen gue itu datang juga. Tapi cobaan gak berhenti sampai disitu. Masih ada hal lain yang menghadang *jeng jeng*
            Pas mau check-in pesawat, ternyata salah satu temen gue (yang gantiin temen gue yang cancel) gak dibolehin masuk sama petugas airportnya. petugasnya itu tengilnya banget, dia ngomong sembari ngebentak, ya gak aneh semua penumpang pesawat lain ngeliatin kita bingung-bingung acuh. Si petugas-jutek itu keukeuh ngomong semi ngebentak gitu. Akhirnya temen gue itu milih gak naik pesawat bareng kita dan ngambil flight yang jam 5 dengan harga tiket hampir 100% dari harga tiket kita. Ya mau apalagi, daripada sia-sia udah rempong-rempong packing, ber-euforia paling semangat terus gak jadi semua kan, ya akhirnya ya terpaksa begitu. Gara-gara kejadian itu sampai-sampai penerbangan pertama kita terlambat. Jadi gak enak ke penumpang lain sih, soalnya pas di bis airport, sampe ada ibu-ibu nanya ke kita soal yang tadi pagi. Dan akhirnya kita terbang dengan perasaan masih mengganjal. pembelajarannya, kita urang sigap dalam mengantisipasi sesuatu diluar ekspetasi.
            Sesampainya di Bali, hal yang sangat ditunggu-tunggu, a promise land. kita excited banget sampai di depan pesawat dan di airportnya kita sempet foto-foto (nersis yeuh)

DAY 1: Tanah Lot - Legian - Kuta Beach 
            Hari yang begitu menengangkan, kenapa? Karena sebagian besar dari kita mempunyai satu kesamaan, ya this is our first time to take a flight. (yah, ketauan ndesonya, kan?). Malam sebelumnya, gue yakin temen-temen gue pada gak bisa tidurnya saking excited dengan perjalanan esok hari, well we can pass that night successfully then. Pagi-pagi banget, kita udah dianterin sama bokapnya denise ke Bandara Hussein Sastranegara. Setelah sekitar 15 menit duduk-duduk cantik sambil nunggu rombongan lainnya dateng, akhirnya mereka satu persatu muncul dengan barang bawaan yang lebih spektakuler disbanding punya gue. Bawaan gue? Cuma sebuah Tas Backpack sedang dan satu tas tangan, simple as hell. Sementara temen-temen gue pada bawa Koper besar yang isinya macem-macem, mulai dari yang penting dari Baju, alat mandi/alat make-up sampai ke alat catok dan keritingan dan Hairdryer.
            Insiden kecil terjadi saat kami semua mau boarding pass. Salah satu temen gue belum datang, sementara kita udah disuruh check in pesawat diatas. Panik pastinya, udah diberitau sama suara mbak-mbak operator bandara kalo pesawat dengan nomor penerbangan sekian udah ready dan semua penumpang disuruh masuk. Nggak kebayang paniknya kita waktu itu, beberapa temen sempet kesel sama temen gue yang terlambat itu. Akhirnya kita dihadapkan dengan pilihan, mau batalin perjalanan hanya karena keterlambatan 1 orang, atau tetap teruskan perjalanan hanya dengan 8 orang saja. Akhirnya sebagian dari kami termaksud gue dengan berat hati naik ke tempat check-in pesawat duluan dan ninggalin 2 orang temen gue dibawah dengan alih-alih menunggu temen gue yang terlambat datang.
 Ternyata masalah nggak berhenti sampe situ aja. Tepat pas kita mau ke pesawat, temen gue yang terlambat itu datang. Gue kira masalah udah clear dan kita bisa have fun completely di pesawat, ternyata nggak. Salah satu awak bandara dari maskapai penerbangan gue ini ngeselin mampus. Orangnya jutek dan sangar dan kalo ngomong semi ngebentak gitu, tipikal orang yang bakal lo tonjok walaupun cuma denger doi ngomong halo dengan muka oh-so-gentle nya. Dan saat itu gue baru sadar, yang namanya tiket promo-dengan-harga-murah nggak se simple yang gue duga. Tiket kita diperiksa dan divalidasi dengan KTP kita. Gue kira bakal secepat mandi koboy, nggak taunya lama, dan memakan korban. Dia lah temen gue yang gantiin beli tiket dari temen gue yang batal pergi. Si awak bandara itu bersi keras dengan logat juteknya menolak tiket temen gue walaupun dia udah bawa fotokopi KTPnya. Udah segala coba dicoba, tapi tetep nggak berhasil. Well, yang paling amazing kalian tau? Penerbangan kita delay karena kejadian tiket-ditolak-dan-temen-gue-yang-dateng-terlambat-itu. Pertama kali nya naik pesawat den kita udah jadi trouble maker gitu, what a great, huh!
 Then, setelah berencana untuk membeli tiket lagi di ticketing, ternyata harga si tiket ke Bali untuk hari itu oh-so-most-expensive lah. Ya, akhirnya dengan berat hati salah satu  temen gue meminjamkan uangnya agar temen gue yang satu bisa ikut pergi ke Bali. Keadaan simalakama emang waktu itu. Dan lalu, di pesawat kita duduk lucu sambil berdoa (yah, sekali lagi maklum, ini newbi banget deh K). Nggak terasa 45 menit perjalanan akhirnya pesawat gue nyampe juga di bandara Ngurah Rai – Bali woo-hoo \m/. walaupun seneng, tapi kami juga mikirin nasib temen gue yang akhirnya jadi beli tiket yang maha mahal itu (fyi, dia kebagian flight yang jam 5 sore). Pas nyampe, kita bla-blo gitu karena most of us ini juga baru pertama kalinya pergi ke Bali. Sesampainya di luar bandara, eh masa kita ketemu temen sekelas kita disitu. Alih-alih pergi jauh, eh ketemunya masih sama temen sekelas juga yah.
Setelah nunggu sekitar 15 menitan, pak guide yang kita tunggu akhirnya datang, lelaki 30 something (kayaknya) memakai ikat kepala khas Bali datang nyapa kita (well, rada telat sih) tapi nggak apa-apa, toh akhrinya dia datang juga kan. Pas mau jalan menuju mobil travel, kita ber 8 disambut oleh cewe ayu asli Bali memakai kebaya khas dan mengalungkan kalung bunga kepada kami. Agak malu emang, ya Cuma gimana lagi, kalo dilepas kan kesannya kayak gak menghargai gitu, akhirnya selama jalan di parkiran, semua mata pengunjung bandara menatap kita lekat-lekat.
Voila, kita udah di dalam mobil travel yang nyaman dan adem banget. Yah yang namanya tour guide untuk mencoba beramah tamah si bli wayan ini mencoba member tahu identitas dirinya dan si pak sopir yang belakangan diketahui bernama bli gus.ar. Nggak sampe situ aja, ngeliat kita yang begitu excited dengan kota ini, bli wayan mencoba memberi tahu sejarah/asal-usul suatu kota dan sejarah patung2 yang kita liat dijalan. Cuaca di Bali saat itu menyenangkan banget, nggak panas dan nggak ujan juga. Destinasi pertama kami adalah ke Tanah Lot. Gue nggak punya gambaran apapun tentang tempat ini, karena sebelumnya gue terlalu sibuk packing dibanding googling tentang tempat wisata yang akan gue tuju di Bali.
Sampai Tanah Lot, cuacanya panas banget-banget. Mulailah human nature kita keluar, baru sampai gerbangnya aja kita udah mulai foto-foto, mungkin dalam ati si bli dia bilang “nih cewek-cewek kece ternyata narsis juga ya” hahaha. Oiya tanah lot itu adalah sebuah Pura yang terletak diatas bongkahan batu dan di bawahnya itu air laut. Kalo sedang pasang sih bisa-bisa sedada orang dewasa, but thank god pas kita dating laut sedang surut, jadi kita bisa ketempat air suci yang mana didalamnya kita bisa cuci muka, minum airnya dan memasang harapan (tapi cerobohnya gue lupa memanjatkan harapan disitu, yang gue inget cuma gimana cara supaya gue sampe tempat itu dengan selamat tanpa kepeleset sedikitpun). Sebenernya gue pengen banget bisa ke atas (pura) itu, tapi ternyata nggak boleh, cuma orang-orang yang berdoa disana aja yang boleh, sedangkan para turis nggak. Well then, gue dan kengkawan Cuma berfoto-foto lucu sebagai bekal dokumentasi yang kelak akan dijadikan bahan pameran buat temen-temen yang nggak ikut kesana.
Chus, selesai dari Tanah Lot, kita lapar bukan main, pas si bli ngasih tau kalo siang ini kita akan lunch di Chinese Restaurant, kita sempet yang liat-liatan gitu. “nggak salah nih restaurant china?”, “eh, halal nggak nih?” dsb adalah reaksi kita yang bisa terpancar dari aura pandangan kita. Pas sampe di restaurant yang dituju, tempatnya cukup bersih dan nyaman, kita makan dengan suguhan gulai ikan, lumpia, kangkung balacan dan tumis ayam. Setelah dicoba ternyata enak, dan seketika buyarlah keraguan gue akan restaurant cina ini. dalam hati gue bilang “nggak apalah ya kalo gue gak tau ini halal apa nggak, yang penting udah baca bismilah sebelum makan” (oke, ini sotoy abis jangan ditiru :p).
 Pufft, sampe juga di hotel tempat kita nginep. Disini gue sekamar sama Rita dan Delvi. Sayangnya si Delvi adalah temen gue yang tiketnya dibatalin itu, walhasil sampe sore gue Cuma berdua doang sama rita di kamar hotel. Jam 2an temen gue udah jalan duluan ke Legian buat shoppa-holla. Gue pun nggak ketinggalan, pas jam setengah 3 kita berlima, gue rita, denis, dea, dan resti nekad untuk berpetualang ke Legian dengan destinasi akhir pantai Kuta. Kita bener-bener awam banget tentang Bali, akhirnya kita nyetop taxi dan zep-zep-zep 5 menit kemudian kita udah sampai di jalan Legian. Menurut informasi temen gue yang udah jalan duluan kesana, it takes only 15 menit by walk to get to Kuta, so we walk step by step dengan kadang-kadang ada mas-mas disana yang goda-godi gitu (god, ini sama aja kayak gue jalan di tanah abang) shock lah, gue kira orang disana nggak senorak itu kalo ngeliat  cewe-cewe jalan. Baju gue dan temen-temen bisa dibilang sopan kok, but why you behave like that guys?
“aduh, ini masih jauh nggak sih?”, “15 menit ya? Perasaan tumit kaki gue udah kapalan nih jalan nggak nyampe-nyampe” “aduh pinggang gue mau patah nih, mana sih pantainya?” yak, itu adalah sebagian komentar gue dan temen-temen gue yang udah exhausted jalan hampir 1 jam. Dari muka kita yang masih berseri-seri karena mau cumasagil (cucimata sampe gila) di Kuta, sampe dengan muka demek binti bengep karena kecapean, voila akhirnya kita nyampe pantai Kuta juga (dan baru gue tau, kenapa gue mesti turun di Jalan Legian, kenapa nggak langsung turun di depan pantainya aja, ternyata kan bisa, what a stupid yes, hahaha)
Sampe pantaiiii~! Udah hamper jam 6 waktu Bali, which means we can’t see sunset. It’s okay then, yang penting kita berlima bisa bercandaan bareng dipinggir pantai nikmatin angin sepoi-sepoi. Ooh, initoh pantai yang jadi banyak inspirasi lagu semacam lagu Ebiet G ade dan Andre hehanusa, yah walopun gue belom bisa nemuin perbedaan besar antara Kuta dan Batu Karas, we enjoyed it. Gosh, kita hampir lupa mau jemput temen gue yang terlambat itu di Bandara. Well, bermodalkan taxi lagi kita ke Bandara. Taxi yang kita naikin itu supirnya baik banget. Dia ngasih tau info-info yang berguna buat kita yang nubi ini selama di Bali. Then, sampai lah kita di Bandara dan si Delvi pun sampe dengan selamat dari pesawat oh-so-mahal nya itu. Bfft. We’re terribly exhausted then we should get to our room to take some rest. Sleep well girls, tomorrow will be more and more strenuous for us. J

DAY 2: Gianyar - Kintamani - Tirta Empul - Sukowati
            Bangun tidur kuharus ngantri, ngantri lagi ke kamar mandi, mengingat kita 3 cewe yang walaupun bisa dibilang mess-up girl, Cuma tetep aja, untuk hari kedua di Bali ini kita pengen tampil all out and full of impression. Karena itu, pagi-pagi bener-bener jadi hectic moment buat kita, dan trust me guys, cewe sejati itu kalo mandi lama. Belum pasca mandi, ada yang keramas dan ngeringin rambut, ada yang dressing-up dan bahkan ada yang masih mandi.
            It’s breakfast time, hotel kita walaupun sering bermasalah sama toilet dan closetnya (susah di flush bowk! Entah apa yang nyumbat didalamnya), pelayanannya lumayan oke. Sarapan kita sih cuma ada 3 pilihan; Nasi goring dan telur mata sapi, Telur dadar+ roti dan Mie instant plus telor. Untuk menjaga ketahanan tubuh menghadapi hari yang full jalan-jalan, gue memilih nasi sebagai pembuka hari. Cuaca hari ini hujan, banyak yang menyayangkan, tapi berhubung gue si penyuka hujan dan mendung ini nggak mempermasalahkan itu semua, karena kita gak akan kebasahan sedikitpun toh kita naik mobil dan destinasi kita saat ini adalah ke Gianyar, menonton Tari Barong.            
            Selesai nonton tari barong (which tells the story of the goodness and the sleaziness, symbolize by a Barong as a tiger, it battles with Rangda, the devil of badness. On this battle, no one become a winner, so as in this life,  the goodness or the badness exist until now). Kita diajak untuk berbelanja di suatu toko yang menurut gue harganya cukup mahal. Setelah berbelanja basa-basi, kitapun diajak ke sentra pembuatan perak khas Bali yang berada di desa ciluk (yang gue piker harganya harga mahasiswa ternyata nggak). Yang sampe sekarang gue bingung ngapain juga ya mereka (para bli) ngajakin kita buat stop ditoko-toko tersebut.
            Lanjut kemudian, destinasi kita ke Kintamani sekarang woo-hoo! Cuacanya sejuk walaupun medan yang dilalui mirip-mirip arah mau ke puncak. Pas nyampe sana pemandangannya bagus, ada danau Batur dan gunung Agung. Setelah puas foto-foto, kita makan siang. Makan siang kali ini sesuatu banget, ala buffet gitu. Restaurannya bersih, makanannya lengkap dan banyak, pas dicoba enak juga dan pelayanannya ramah. Sayangnya gue lupa nama restaurant itu apa. Seperti biasa, sifat anak-kosan gue keluar, gue ambil makanan semuanya dalam porsi lebih sedikit. Lebih ke maruk sih jadinya, tapi nggak apa lah, semua udah tau kejelekan masing-masing jadi ngapain mesti jaim lagi kan.
            Oke selesai makan siang, tujuan kita selanjutnya adalah ke Pura Tirta Empul. Disini cukup unik, kita dilarang masuk puranya kalo gak pakai baju adat (kalo turis bisa masuk kalo pake kain hingga menutupi setengah betis). Dan yang paling penting yang perempuan kalo lagi halangan dilarang masuk, so then beberapa temen gue nunggu diluar Karena tidak diperkenankan masuk. Sampe di dalam, masyarakat sana sedang berdoa, rada nggak enak sih, mereka lagi berkomunikasi dengan tuhan dan membutuhkan ketengangan, malah banyak turis yang foto-fotoin mereka, jadi gak hening lagi kan. Untungnya gue dan beberapa temen yang masuk bisa jaga kenyamanan pura. Oh iya disana ada pancuran air yang bisa berkhasiat loh, bahkan masyarakat disana mandi dan membawa sebagian air untuk diambil berkahnya.
            Waktu telah menunjukan pukul 4 sore waktu Bali. Setelah selesai, destinasi kita selanjutnya adalah Sukowati. Sentra oleh-oleh Bali yang (katanya) terkenal akan kemurahannya. Setelah berbelanja dengan berargumen pendapat dengan penjualnya (baca: nawar) akhirnya dapet beberapa oleh-oleh untuk saudara dan ponakan. Gue nggak lama disana, emang dasarnya gue adalah orang yang gak bisa nawar, jadinya gue paling nggak bisa stand up di pasar lama-lama. Setelah nunggu sebagian temen gue yang masih belanja disitu, gue masuk mobil dan dijalan gue ngeliat masyarakat sekitar pasar Sukowati tersebut sedang berjalan dengan membawa pelbagai sesaji dan kain, mereka semua berbaju, berikat kepala dan berkebaya putih khas Bali, rupanya mereka sedang melakukan upacara adat. Seketika mbak-mbak yang jualan disana heboh dan ikut menonton parade tersebut.
            Setelah selesai berbelanja, kita berbelanja lagi, karena ada temen gue yang rupanya sedari tadi nggak ikutan belanja. Walhasil, kita berhenti di destinasi kita selanjutnya yaitu Kresna, Ini kayak Carrefour gitu yang jualnya barang-barang dan cinderamat akhas Bali. Soal Harga sih yah bisa dibilang lumayan, tapi berhubung duit udah seep bin beak, akhirnya gue cuma bisa ngeliat dengan mupeng barang-barang yang ada disana in the name of Hemat-beb.
            Yasudah, Hari kedua di Bali ditutup dengan helaan nafas panjang tanda kecapean dan keluhan patah pinggang hingga kram betis, yes, means we’re no longer young. Untuk gue bertiga yang sekamar, ini merupakan moment untuk jalan-jalan malam di the most famous street in Bali, tapi tuhan mungkin berkehendak lain, ada sesuatu yang menjadikan rencana kita batal. Salah satu temen gue jadi bete karena kita udah terlanjur dress-up tapi nggak jadi. Yasudah malam itu ditutup dengan makan malam disebuah kedai pecel kaki lima. What an up-and-down moment so.

DAY 3: Pura Taman Ayun - Bedugul - Ubud
            Hari ketiga adalah hari bebas, dan entah kenapa pagi itu gue sulit bangun. Lemes dan masih ngantuk adalah excuse gue waktu dibangunin si rita. Walhasil gue jadi mandi paling terakhir dan rombongan kamar 107 menjadi yang paling terlambat hadir di meja makan. Walaupun hari ini tanpa panduan bli wayan yah it’s okay karena gue dan teman-teman tetap memakai mini bus dengan bersupirkan bli gus.ar mengelilingi taman ayun, Bedugul dan Ubud hari ini.
            Cuaca hari ini bagus kok, cerah berawan tapi pas nyampe di Pura taman ayun, cuaca jadi gak bersahabat sama gue. I mean it’s so mega giga triple hot. I feel like my skin’s gettin burn then, oh-so-lebay then. But I feel very enjoy that place. Meski Cuma jalan-jalan dan ngeliat puranya dari jauh, itu nggak apa-apa cause somehow gue seneng bau dupa dan bunga kenanga yang selalu gue temuin disetiap pura Bali yang kita singgahi (until now, I can smell and remind it anywhere I am).
            Cukup keringetan dan bau matahari disana, kita langsung capcus ke Bedugul. Ketempat yang pasti kalian sering lihat, I mean you see that often in side of our 50 ribu rupiah. Yeap! Danau Bedugul dan bangunan puranya yang khas. Cuacanya saat itu mendung, I like it, tapi begitu gue menginjakan kaki di tempat parkirnya, masya-allah itu dingin banget. Seriously dingin banget macam lagi hujan di Tangkuban perahu, figure it? Gue dan teman-teman saat itu sungguh salah kostum men. Kita pake setelan tali satu dan pelbagai baju model handless or beach costumes which we had prepared for the trip. I don’t even know where is Bedugul dan kontur wilayahnya yang ternyata di kaki gunung tersebut. Bermodalkan cardigan tipis, gue mencoba deal with those temperature.
            Yeap, tujuan gue dan teman-teman ke Bali selain untuk bersenang-senang dan melepaskan penat adalah mengincar bule-imut-yang-jalan-sendiri. Setelah memancarkan sinyal diseluruh penjuru danau Bedugul, kita nemu sesosok bule (I guess he’s Australian) pae baju kuning sedang berjalan-jalan sendirian. Entah karena dia lagi seneng banget jalanjalan kesana atau karena lagi tebar pesona, kita sering liat dia jalan melewati kita dengan tersenyum simpul, what was that mean? “ini bule minta difoto bareng nih” setelah berkeliling dan akhirnya cape sendiri kita duduk dipelataran pura. Oh iya, si Bule itu beraju kuning, kita menyebutnya dengan sebutan “si kuning”, standard I know. Mata kita berpetualang mencari si Bule kuning berada. Tekad kita bulat mau ngajak tuh bule kenalan atau setidaknya berfoto bareng lah. Tapi kita lupa ternyata pepatah untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, setelah nyari-nyari dimana bule tersebut berada, kita malah dikejutkan dengan datangnya 4 cowo tinggi besar yang berasal dari Nigeria. Gue sih udah curiga,itu 4 orang Nigeria daritadi foto-foto mulu kerjanya, narsisnya melebihi gue dan kengkawan. Dan salah satu dari mereka memakai baju kuning juga lagi. Dan setelah kita rangkai-rangkai daritadi pas kita ngomongin dan nyariin si bule-kaos-kuning, malah dapet orang-Nigeria-kaos-kuning.
 Dan yang mengangetkan adalah 4 orang Nigeria tersebut mau berfoto dengan kita, I mean kita cewe-cewe lokal bersembilan ini. Ini fantastis, belum ada orang asing yang minta foto bareng seumur hidup gue. Dimana karisma kita bersembilan coba ya. Setelah foto-foto dan berbasa-basi (2 orang temen gue berfoto berdua dengan Nigerian tersebut) dan pengakuan mereka saat difoto adalah nafas mereka berat banget dan rangkulan mereka juga erat banget. It was random moment aja buat kita. Dan si bule kuning itu, he disappeared.
Holla, pulang dari Bedugul yang baru gue tau ternyata banyak muslim disana, dan untuk pertama kalinya gue denger suara adzan di Bali. Padahal dalam jarak kurang lebih 1 km terdapat masjid juga di deket Pura Bedugul, namun mereka dapat hidup bersebelahan tanpa terlihat ada konflik sedikitpun. Indahnya toleransi umat beragama J. Pulang dari Bedugul dengan berbekal foto  bareng 4 nigerians kita mampir di Joger. Nggak sih gue nggak belanja mahal disini, kali ini gue cuma beli souvenir untuk gue sendiri. Setelah selesai shoppa-holla, nggak beberapa jauh dari Joger, kita nemu satu warung muslim, what a great walaupun cuma nyediain Mie Ayam yah lumayan jugal ah buat perut yang udah keroncongan dari pagi. Cuaca saat itu gerimis. Sebenernya gue bukan tipe orang yang heboh sama gerimis. Menurut gue selama hujannya masih bisa ditolerir, gue nggak akan buka paying, tapi entah kenapa saat itu ngeliat temen gue buka paying, gue jadi ikutan padahal ujannya nggak gede-gede amat. Dan hari itu adalah perjumpaan terakhir gue dengan paying gue, yap PAYUNG GUE ILANG, padahal rasa saying gue ke paying itu melebihi rasa saying gue ke mantan-mantan gue, dan sekarang yang tersisa cuma tinggal kain pembungkusnya, aku sedih loh dan sepanjang sore hingga malam gue hanya bermuram durja sambil terus mencoba mengikhlaskan kepergian paying gue:’(.
Coba kalo gue inget-inget, 2 benda gue ketinggalan di Bali. Pertama jepitan-mandi kesayangan gue, masih bagus padahal, sampe kalo ketinggalan dirumah pun gue selalu ambil balik lagi. Pas gue pake waktu itu di Kuta, dan pas sampe taxi gue baru menyadari ilangnya jepitan gue. Kedua ya payung itu yang mana itu juga merupakan payung kesayangan gue. Yah sudahlah mungkin tuhan mengingatkan gue yang kurang bersedekah ini dengan mengambil barang kesayangan gue sebagai pengganti dosa gue. Terus-terusan gue piker begitu sampe akhirnya sekarang gue udah ikhlas.
Lanjut kemudian kita sampe di Ubud. Pernah nonton eat pray love? Gue sih belum, tapi menurut si bli gus.ar, desa ubud ini merupakan desa yang tepat untuk orang-orang yang mencari sarana spiritual dan ketenangan. Sayangnya gue Cuma beberapa menit disini, which means ubud adalah tempat dimana temen gue bisa nyari toilet untuk numpang pipis. Kita tiba disebuah tempat, kayak gazebo besar gitu yang kemarinnya abis dipakai sama acara temu penulis besar. Penulis-penulis jenius macam Andrea Hirata, Djenar maeasa ayu, dll ikut jadi pembicara di acara ini. Sembari nunggu temen-temen gue yang selesai urusan pribadinya di kamar mandi, gue, deadan  resti nunggu sambil duduk-duduk imut di dalam gazebo itu. Kesantaian kami dirusak dengan datangnya anjing secara tiba-tiba.  Kita bertiga takut anjing dengan level paling parah nyaris phobia adalah Resty. Nggak lucu dimana moment pas lo lagi asik ngobrol tiba-tiba anjing muncul 30cm dari kaki lo, panic attack kita langsung pegangan satu sama lain sambil nunggu anjingnya pergi, dan pas si anjing pergi kita bertiga lari panic sambil teriak dan pegangan. I wonder what in deepest mind of bule-bule there when they saw us running like a crazy person while yelling and holding hand each other. So embarrassed.
Selesai pipis, kita ke salah satu Pura di Ubud, kejenuhan mulai melanda, kita mau ke pantai untuk destinasi terakhir kita di Bali besok. Akhirnya setelah take some photos, kita balik. Nggak, belum balik sih, kita masih usaha cuci mata, dan di depan kita terrnyata terletak Pasar Tradisional Ubud. Dasar wanita, kita akhirnya masuk kesitu dulu sebelum memutuskan balik. Siapa tau nemu yang bagus dan murah mungkin itu pikiran temen-temen gue saat itu.  Dan setelah berkeliling melihat, mencari dan menawar, tidak ditemukan apa yang diinginkan, akhirnya kita cabut dari Ubud.
Nah, disini part lucunya. Mau gue ceritain detail juga nggak enak tapi kalo nggak diceritain nggak dapet precious moment juga. Jadi salah satu temen gue orangnya sangat nggak bisa kalo buang hajat ditempat sembarangan/tempat umum, jadilah dia menahan keperluannya tersebut supaya bisa diselesaikan di kamar mandi hotel. Namun nasib enggan berpendapat sama, jarak dari Ubud ke hotel yang terletak di Kuta itu lumayan jauh ditambah jalanan Bali yang unpredictable macetnya sore itu menghambat kepulangan kita ke hotel. Akhirnya temen gue tersebut yang udah kebelet tak kuasa nahan lagi, bruupp… semua terhempas begitu saja. That makes us shock terribly. Suddenly there’s smells bad in the car, mobilnya itu kan pake AC jadi barang siapa yang kentut pun akan langsung berefek mematikan bagi orang-orang yang ada di dalam mobil itu karena nggak ada sirkulasi udara, I mean, udara di dalam mobil bakal holly crap banget, oh gosh I still remind that smells when I write this. Kita dan tentunya temen gue yang punya hajat itu jadi merasa nggak enak karena telah mengotori mobilnya. Hal itu diakali oleh temen gue yang lainnya dengan membeli sebuah parfum, I mean cologne untuk menetralkan bau didalam mobil dan tentu saja menghindari kecurigaan si bli. Ridiculous moment J.
Jam 7 malam waktu Bali, temen gue yang sakit perut tadi dan sebagian temen ingin langsung ke hotel, sedangkan gue dan teman sekamar ditambah nita dan teh niesa kita jalan-jalan malam ke sekitar jalan legian dan kuta. Sebenernya sih nggak malem-malem banget, masih sekitar jam 9an  lah, kita menyusuri toko-toko disepanjang jalan legian. Setelah si teteh dapet oleh-oleh buat dia sendiri dan pacarnya, kita makan. Bedanya levelan gue, rita, delvi dan nita cuma makan paket nasi McD, sedangkan teh nisa memilih makan nasi campur di rastauran yang isinya bule semua. Oke direstauran itu menurut si delvi yang daritadi matanya usaha, dia ngeliat ada seorang bule yang duduk dimeja sebelah yang ngeliat kearah meja kita terus.  Orang itu nggak buat movement sih, jadi ya kita asik-asik aja ngobrol sambil minum-minum kece disana. Dan saat sampai kita minta bill dan pergi dari restaurant itu, si bule itu baru berani nyapa temen gue. Ternyata orang luar kalo mau ngajakin kenalan masih cupu juga ya, apa kitanya yang kurang menarik ? haha.
Sampai dijalan sebelum naik taxi ada sesosok bule yang mempesona, seriously, dia mirip young Noel Gallagher; model rambut poni ala beatles (bukan ala mangkok), alis tebel, air mukanya juga mirip banget, tinggi, bibirnya merah , oh-so-stunning  banget lah. Tapi yah sialnya dialagi bareng cewenya. Dia ada di toko yang gue masukin, sementara si cewenya lagi belanja, dia nunggu sambil ngeliat-ngeliat, dan lagi-lagi gue terlalu malu buat usaha, walhasil gue gagal dapet step lebih jauh sama si Noel. I accept that fail uneasyly. Abis selesai shoppa-holla-cupka-cupka, kita balik ke hotel dengan mengendarai taxi. Nggak ada momen special lagi malam itu, cuma akhirnya delvi dan rita berenang di kolam renang hotel malam itu. Larut malamnya, gue dan mereka bercerita tentang mantan masing-masing. Gara-gara sesi curcol tersebut kita jadi tidur telat, kita baru tidur jam 3 pagi waktu bali dan guess what, we wake up terribly late in the morning. We become the last person who come to the dining room. Pfft.

DAY 4: Tanjung Benoa - GWK - Dream Land - Hussain Sastranegara
            Hari keempat which means hari terakhir kita di Bali. Hari ini kita kembali bertemu bli wayan untuk menjadi pemandu. Tapi hari terakhir ini kita disupirin sama adiknya gus.ar, karena beliau berhalangan hadir, sang supir baru ini bernama bli gus.de. Destinasi pertama kita untuk hari ini adalah Tanjung Benua water sport yang ada di Nusa Dua, menurut si bli, Nusa Dua itu adalah tempat bule-bule berduit berada, semakin semangat jadinya. Sesampainya di Tanjung Benoa, hasrat hati pengen coba semua wahana air yang ada mulai dari Flying Fish, Doughnout, scuba diving, sampe banana boat, tapi apa daya duit tak sampai. Emang sih harganya mahal, tapi ternyata bisa ditawar karena kita adalah turis domestik. Tapi tetep aja walopun ditawar, masih jauh dari jangkauan. Akhirnya hanya berempat yang main, denis, nita, teh nisa dan nita. Sisanya ? yah kita nunggu aja dipinggiran.
            Setelah selesai ber-water-sport ria di Tanjung Benoa, kita langsung capsus ke GWK. GWK means Garuda Wisnu Kencana. Tempat dimana terdapat patung super gede yang mengsimbolisasikan Dewa Wisnu yang sedang menaiki Burung Garuda sambil membawa sebuah kereta kencana. Awalnya gue mengira kalo patung itu terbuat dari batu, ternyata patung itu terbuat dari perunngu yang dipahat oleh seorang seniman asal Bali yang sedang tinggal dan mengajar di FSRD ITB bandung, beliau adalah I Nyoman Nuarta. Ngeliat maketnya aja dah rumit banget, gimana ngerjainnya ya, nggak kebayang sebesar kalo patung itu udah rampung semua.
            Yang paling oke waktu di GWK selain foto-foto adalah kita disuguhi tari khas Bali. Mulai dari tari Pendhet, tari Barong sampai tari Legong semua disuguhi dan mereka begitu amazing, seriously i envy them. Kalau hidup gue bisa diatur 12 tahun lebih awal, gue pengen minta nyokap supaya kursusin gue tari daerah. Kalau sedari kecil udah bisa, pas gede kan pasti udah jago. Lanjut selesai nonton pertunjukan (sayangnya kita nggak nonton tari kecak yang padahal gratisan) kita lunch bareng disekitar GWK. Sistemnya sih emang buffet, tapi macam makanannya lebih dikir disbanding restaurant yang ada di Kintamani. Oke selesai makan, kita melanjutkan perjalanan yang merupakan akhir tujuan kita di Bali, yaitu Dream Land Beach.
            Sebelum ke pantai resty dan dea mempersiapkan semua hal dengan baik, bahkan mereka membeli topi anyam bekal property untuk difoto di pantai nanti. Perjalanan kita selalu dibercandain sama si bli gusde, ngebuat perjalanan ke Pantai lebih fun. Lalu, sampai di Dream Land, yah langsung ke Pantainya, I can explain more about this place, it’s wonderful.  Pantainya bersih dengan pasir dan air laut yang biru bening. Cuacanya juga bagus nggak panas banget tapi juga nggak mendung banget. Cuma satu hal yang disayangkan, warga sana sedikit mengenal uang, kita sempet bingung sendiri sih waktu mau mesen umbrella, jadi kayak rebutan gitu nawarinnya, ada yang nawarin ini, ada yang nawarin itu, walaupun akhirnya kita make deal sama salah satu mok disana dengan harga sewa 50rb sepuasnya.
            Pantai. Dream Land. Amazing. Really. Spotnya bagus buat foto-foto tapi sayangnya rame benget pas kita nyampe. Mungkin karena week-end kali ya. Oh iya sebelum ke Dream Land ini, kita ngelewatin kayak gerbang perumahan gitu. Menurut bli wayan, perumahan itu kalau udah jadi kelak bakal jadi kota satelit pertama di Indonesia, dimana semua yang dicari ada, mulai dari pasar, hypermarket, sport stasion, dan pantai sebagai halaman rumah. Gossip-gossipnya sih proyek ini milik putra mantan orang paling berpengaruh RI. Sebelum sampai di Pantainya kita harus naik Shuttle buat sampai ke dalamnya dan voila akhirnya bener-bener masuk ke Dream Land yang bener-bener dream land. Waktu jadi berasa cepet banget hari itu. Nggak terasa udah hampir 3 jam kita main-main di Pantai, it’s time for us to go to prepare to Airport. Yang gue liat sih banyak timbul raut kekecewaan dari muka kengkawan. Entah bete karena apa tapi yang jelas kepergian kami dari Bali ini lumayan bikin gue cheesy juga. Kita lebih banyak diem pas pulang ini.
            Mungkin saking nggak relanya harus Back to reality and leaving such a best holiday moment only in four days, kita jadi diem bengong nggak jelas, keliatan banget perbedaan antara pas momen keberangkatan dan kepulangan. Apa mungkin karena barang bawaan yang menjadi makin berat  atau teringat akan hutang masing-masing hingga semua teraduk jadi satu yang mana menimbulkan such an odd feeling in our heart. Pas makan pun walaupun kami mencoba untuk ceria, ada aja tambahan cerita yang tak terduga. Kita makan malem di KFC sambil nunggu pesawat kita yang (katanya) arrive at 20.10 WITA. Saat makan, si delvi kembali menumpahkan sesuatu di KFC, kalo dulu adalah Cream Soup, kali ini dia numpahin 2 orange juice. What a great, she said. Masalah tumpah-menumpah sesuatu sebenernya udah jadi hal lumrah buat kita, ada aja kejadian diluar nalar yang bikin kita sial hingga harus numpahin sesuatu. Gue pun pernah waktu makan di A3 Jatinangor, saking laper dan semangatnya gue numpahin sambel yang tadinya keisi penuh sampe tinggal sedikit. Oke semua pandangan tertuju ke meja gue dan kengkawan sampe-sampe ketawa terbahak, untungnya saat itu harga cabe belum mahal-mahalnya. Sampe sekarangpun kalo ada sesuatu hal tumpah ruah, semua langsung mengaitkannya ke kejadian tumpah-sambel-di-A3, pfft.
            Oke, saatnya check-in. setelah selesai scan barang, tuker tiket dan bayar airport text, tak lupa terlebih dahulu kita berpamitan sama para bli. Kali ini pun si delvi nggak bareng satu pesawat lagi bareng kita. Dia naik maskapai penerbangan lain yang kebetulan saat itu ada harga promo tapi ya dia harus rela turun di Airport Soekarno-Hatta sendirian. Dan ini mungkin yang paling disebelin sama pengguna maskapai penerbangan yang satu ini, delaynya nggak nyantai, dan gue baru tau rasanya nunggu delay tuh kayak gini. Udah capek, bete nunggu delay, perasaan masih nggak rela senin udah kuliah lagi membuat kita sensi, kalo ada yang nyolek nggak nyantai langsung mau gue colek pake gagang koper.
            Tiba-tiba ada pengumuman tante-information bandara gitu, kalo pesawat udah parkir, ya lanjut kita ngantri menuju gate 16, gate pesawat gue ke Bandung. Setelah menunggu hamper sejam sambil ngantri berdiri, akhirnya gue yang duduk di kursi nomor 14 bersama resty, nita, orin dan the niesya dipanggil duluan. We wonder how come, passanger which has seat number 1 until 5, 12 and 14 please come to the plane first. Yah kira-kira gitu deh yang nomor sekian didahuluin. Naifnya, gue kira gue dapet lucky seat dimana semua orang-orangnya bakal dapet snack sesampainya di Kabin, eh nggak taunya malah dapet kewajiban yang berat banget. Ternyata kursi yang kita dudukin adalah Hot Seat dimana terdapat Pintu darurat. Si Pramugari dan pramugara menjelaskan jikalau terjadi apa-apa di pesawat ini maka buka secara paksa pintu darurat yang menyerupai jendela ini, nasib semua penumpang tergantung dari kita, orang-orang yang duduk di Hot Seat ini jika pesawat ini kenapa-kenapa.
            Fiuuh, alhamdulilah landed di Bandung dengan selamat sentausa walaupun disepanjang perjalanan rada goyang patah-patah gitu pesawatnya,dan pas landing, itu kasar banget, nggak seperti pesawat yang kita naikin pas berangkat. Mungkin emang perasaan semua aja yang mellow sampe pesawat yang turbulence kayak gitu kita jadiin excuse bad mood kita. Sesampainya di Bandara Hussain, semua orang tua dari kengkawan gue yang tinggal di Bandung menjemput, bahkan ada yang seluruh keluarganya datang nunggu di Bandara, ya itulah si Orin, dia berasa disambut sehabis pulang naik haji pikirnya. Rita dijemput pamannya, begitupun resty nita dan teh niesya. Sedangkan gue dan dea, sebagai orang rantau (Bekasi dan Jakarta sih) menumpang nginep di tempatnya denis Karena kita sampai waktu itu lumayan udah malam.
            That was my long story of  holiday in Bali. Walaupun dapet beberapa cobaan, walaupun nggak dapet gandengan bule, walaupun duit abis belanja oleh-oleh, tapi semua terayarkan oleh pengalaman dan sensasi unforgettable. Bali for us, particularly for me, it’s everlasting J.