Minggu, 16 Oktober 2011

Second grade great feeling

Pernah nggak sih kalian ngerasa jatuh cinta sama seseorang tapi bukan atas nama pandangan pertama? Semacam perasaan suka yang muncul karena lo terus bersama dan karena terbiasa ketemu, kalo menurut peribasa jawa namanya "witing tresno jalaran soko kulino" yang artinya kurang lebih cinta datang karena seringnya intensitas bertemu. Gue pribadi lebih percaya tipe cinta kayak gini, dan menurut gue cinta macem ini terjadi pada orang-orang yang mempunyai kecakepan KW 2, like me naturally.

Jadi, awal mula ceritanya adalah ketika gue masih duduk manis di kelas 2 SMP. Sebenernya nggak ada kenangan manis-manis amat yang tersisa dimasa SMP, karena saat itu gue termaksud tipikal orang sedikit semi antisosial. Jujur, waktu SMP temen deket gue sangat dikit, bahkan bisa diitung pake jari, mungkin karena gue ngerasa kurang nyambung aja ngobrol sama yang lain. Ditambah ada sebagian orang yang mungkin gue anggap sebagai duri di landasan tempat gue berpijak saat itu, it's freaking me out when they suddenly got closer to me, and I became more terrible in order to protect me from everything that I don't like. SMP gue waktu itu adalah SMP yang tidak gue harapkan sama sekali, yap, SMP swasta dimana SMP dan SMA bergabung didalam satu gedung.

Masa SMP gue bisa dibilang sangat sulit, ditambah dengan kendala jarak rumah ke sekolah gue tang bisa dibilang dari ujung-keujung, nggak ada hari sesial dan senestapa hari-hari kelas 1 , ditambah waktu itu kelas gue kebagian masuk pagi. Menjelang kelas 2, perputaran roda, kali ini kelas gue kebagian masuk siang, and believe me this is worse than what you can imagine. Tapi mungkin tuhan berencana lain ya, tuhan membuat masa kelas 2 SMA gue sedikit lebih cerah dengan menghadirkan seseorang sebagai lentera hari gue yang gelap (yaks, lebay!).

Let's pretend his name is Pringga. I know him since he accidently took same angkot like me, rumahnya seperumahan sama gue ternyata. First impression, nih anak berantakan banget, semacam orang yang abis mandi lupa cukuran dan pake baju yang lupa disetrika. FYI, dia anak kelas 2 SMA, which is older 3 year than me. Dia merupakan salah satu adik kelas dari Kaka gue yang saat itu popularitasnya mengalahkan kharisma kepsek gue sendiri. Kakak gue on third grade, and she is pengurus osis terkemuka, nggak heran banyak guru dan adek kelas (anak kelas 2) yang kenal kakak gue.

Balik lagi ke Pringga, selain berantakan, dia tuh tipikal orang yang cuek dan gampang akrab sama orang, dan satu lagi dia itu orangnya humoris, banget. Waktu kelas 2 SMP itu, gue bareng sama tetangga gue yang kelas 2 SMA pergi dan pulang sekolah. Jadilah kita ber 6 pulang sekolah dengan naik angkot. Awalnya sih dia kayak nggak notice kehadiran gue sebagai seorang anak bawang di angkot itu. Kali kedua, gue sering ngeliat dia di kantin, kita cuma liat-liatan dan wuzz, nggak ada sesuatu sama sekali abis itu. Sampai tiba suatu saat, pas abis selesai solat berjamaah, tiba-tiba ada yang teriakin nama gue, pas nengok ya tuhan, itu dia manggil gue sambil senyum-senyum jijay gitu. Gosh, mimpi apa gue semalem?

Panggil-panggilan itu makin sering, apalagi kelas dia yang masih gue inget banget sampe sekarang berada di bawah lantai kelas gue. Kelasnya itu letaknya strategis banget dimana gue bisa ngeliat dia sengaja atau tidak pas mau ke kantin/masjid. Gosh, I felt there's thousand of butterflies in my stomach. Ini kali ya yang dinamain suka sama orang? Apa ini bagian dari fase pubertas? Gue nggak peduli, yang penting gue bisa setiap hari ngeliat pringga dan disapa sama dia, and believe me untuk ukuran anak SMP macem gue, disenyumin, ditegor begitu udah cukup buat gue floating sampai langit ketujuh.

Oh iya, lagu! Jadi waktu istirahat gue waktu itu pas abis solat, kelas gue mencoba canggih dengan menyetel lagu-lagu everlasting oh so 80&90's, dimana temen-temen sekelas gue yang lain nggak suka sama sekali. Tapi berhubung gue adalah 80&90 songs lover, I enjoyed that, lovely. Pas banget moment terindah gue disapa dan di senyumin Pringga, speaker kelas gue lagi mainin lagu "Nothing gonna change my love for you" nya George Brenson. Sampai sekarang, kalau dengerin lagu ini pasti bisa langsung flashback memory gitu (tsah).

Nyali gue saat itu sangat ciut, dan gengsi gue terlalu gede untuk mencoba menyapa atau sekedar senyum duluan. Gue selalu berharap gue yang dibegituin sama dia. Tapi roda nggak selamanya berada diatas, kadang dia juga pernah ketemu tanpa negor/senyumin gue. Gue kecewa berat, dan gara-gara hal sesepele itu gue bisa badmood seharian bahkan sampe rumah. Dalam hati gue mikir, salah apa ya gue sama dia? Apa ada yg aneh sama gue? Begitu terus sampai sehari, dua hari, tiga hari dan seminggu gue nggak ketemu pringga. Kangen lah pastinya, cuma kesiapa gue berani cerita? Ke nyokap sama bokap, palingan cuma dianggap cinta monyet becandaan, ke kakak gue? Nggak berani bilang banget gue tentang pringga ini, takut diunderestimatekan, ntar yang ada gue malah jadi ikutan ilfil, berabe ntar. Satu-satunya media pelampiasan perasaan gue cuma diary hijau yang gue tulis full saat-saat masa SMP gue. Hitam putih, keluhan, curhatan semua tertuang disitu. Walaupun nggak bisa dibilang artistik dan indah secara estetika (isinya full tulisan, dan tulisannya lebih acak-kadut dibanding lalu lintas kota bandung), so and on, I considered myself and my diary as a human and oxygen, simply can't live without it.

Lowest point buat gue adalah dengan harus melewati masa masa semi gelap SMP gue tanpa adanya obor penerang lagi, sampai akhirnya pas gue lagi mesen nasi uduk ibu kantin, dia dateng dengan tampang cengengesnya, dia nyapa gue. Gosh, mimpi apa semalem? Anjrit, blushed, ini gue seneng banget, cuma saat itu gue tetep berusaha buat cool, saking berusahanya, gue sampe kayak orang salah tingkah. Rupanya mungkin saat kemaren-kemaren itu dia lagi badmood, jadi gue nggak keliatan dalam indra penglihatannya. I tried to assume like that. I don't care about yesterday, yang penting pringga kembali mencerahkan hidup gue. That's enough. Lagu "thank you" nya Dido mengalun dikejauhan.

Physicly, Pringga ini nggak stunning amat, ya standarnya cowo lah, dia bukan tipe cowo basket atau anak osis yang oh-so-famous itu. Serba sedang. Tinggi sedang, gaya sedang dll. Berkacamata, tampilannya sedikit acak-acakan, dan keliatannya sih pringga ini termaksud anak nerd yang humoris. Ya kalo kata temen gue saat itu, dia juga bingung kenapa gue bisa-bisanya suka sama dia, ya cuma kan perasaan nggak bisa ditawar, sekalinya hati bilang klik, nggak bisa di unclick secara paksa juga. Tapi yang bikin gue ribet juga, ntah karena terlalu ramah atau emang dia hobi flirting, gue sempet ngeliat dia juga goda-godi temen gue. Sebel sih, tapi yaudah lah, yang namanya lagi cheesy and mellow due to love, jadi gue anggap itu bukan suatu masalah. Dia hanya mencoba bersikap ramah kali, pikir gue dalam hati.

Beranjak ke kelas 3, waktu itu semua kelas kebagian masuk pagi, dan entah kenapa, mungkin juga udah beda kelas, gue jadi jarang ngeliat Pringga lagi. Kelas dia bukan lagi dibawah kelas gue. Gue pun nggak tau dia dimana kelasnya, dan sekali lagi gue terlalu gengsi untuk sekedar mencari tau. Sampai akhirnya pertengahan semester, karena intensitas pertemuan yang semakin jarang, membuat perasaan gue ke pringga juga mulai luntur. Tapi sampai sekarang gue masih inget gimana deg-degannya gue waktu ketemu dia dikantin/di masjid, rajinnya gue masuk ke kelas, atau curi-curi waktu ke kantin pas jam pelajaran semua demi satu hal, bisa curi-curi pandangin dia. Terdengar cliche sih, cuma buat gue waktu itu dengan cuma ngeliat dia hadir disekitar gue itu udah merupakan suatu berkah. Apalagi ditambah senyuman dan teguran simpel dari dia, it realy made my days. Tapi sekarang yang kita rasa cinta butuh dari sekedar senyum dan teguran kan, ada elemen-elemen lain yang harus muncul untuk menciptakan apa yang dinamakan cinta. Yah mungkin bener kata nyokap gue, cinta jaman SMP itu nggak lebih dari sekedar cinta monyet, but I realize one thing about him, he probably was my first love at that time. Thanks Pringga, you really made my day.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar