Hari ini hidup gue produktif sekali. Pagi ini gue bangun jam 7, sangat pagi sekali untuk ukuran gue. tanpa sempat sarapan gue langsung pergi ke kampus walaupun hari ini tidak ada perkuliahan sama sekali. Semua itu gue lakukan demi apa? ya demi kelancaran proses metamorfosis dari tahap Seminar-Proposal-Skripsi. Hari ini gue menghabiskan banyak waktu di Perpus Kampus. Rencana mau minjem buku A yang menunjang teori di Propos gue, eh malah ternyata nggak ada karena sedang dipinjam. Ternyata biaya perpanjangan kartu anggota perpus di kampus gue itu mahal sekali, 25k/ person and seketika gue langsung bokek tak terkira.
Dengan menganut asas "Idle Minds Are The Devil's Workshop" gue menjadikan setiap hari di hidup gue menjadi hari berpikir dan bertindak mulai detik ini. Pokoknya dalam hal apapun, gue berusaha untuk tidak nganggur barang semenitpun. Susah sih emang buat ngilangin rasa malas, ya cuma emang udah waktunya buat gue ngilangin segala setan yang menggangu. Proposal gue UDAH JADI akhirnyaaa~, emang segala sesuatu tuh harus dimulai dengan niat yang tulus dan target. Jangan kebanyakan rencana dan lakukan yang menurut lo bisa dan harus lo lakukan. Padahal baru seminggu kemaren gue ngerasa males buat nyelesaiin baca buku, tapi semua harus dimulai dengan SPIRIT yang Luar Biasa untuk menyelesaikan itu semua. Alhamduuuu~ lilaaah ya allaaah~ :">
ps: doakan gue supaya jangan keasikan ngenet dibanding nugas ya untuk hari-hari selanjutnya...
ROSSI HWAITIIIINNGGG~!!! \m/
So much heaven, so much hell, so much love, so much pain, so much war, so much soul. One man's loss, another man's goal. So much more than I thought this world can ever contain.
Senin, 14 November 2011
Minggu, 06 November 2011
tidak seindah kisah di FTV, kawan!
Jumat emang hari yang bikin maleeeees banget buat ngapa-ngapain, well mungkin emang guenya aja yah yang males, but hey! Thank god it's friday. Hidup gue emang selalu dengan rencana. Diotak gue sibuk untuk memprogram hari esok dengan pelbagai rencana-rencana matang, tapi hasilnya, keesokan harinya hanya 20% dari peta rencana yang berhasil dijalankan.
Kemarinnya sih gue berinisiatif untuk pergi ke perpus jumat pagi dan berdiam diri disana sekitar 2-3 jam untuk mencari referensi skripsi. Namun apa daya, rencana tinggal rencana, gue bangun kesiangan dan kondisi badan gue pagi ini lumayan lemes. Walhasil jumat pagi hanya diisi dengan bangun-kamar mandi-beli sarapan- buffering-buffering-ngenet sampe siang. Sungguh tidak produktif sekali diriku kawan!
2 hari lagi kan Lebaran Haji, makanya minggu ini gue berpikir buat balik lagi ke bekasi. Itu sih sebenernya bukan rencana, bisa dibilang dadakan malah. Dan setelah jam 12 gue bersiap berangkat ke Leuwi Panjang. Cuaca siang ini mendung sedikit gerimis, tapi gue tetap melangkah pasti menuju pangkalan Damri. Kesan pertama gue adalah "woanjiiir, dapet damri kaleng deui!" Tapi yah mau namanya nasib, udah leha-leha duduk lucu di pojok bis, tiba-tiba disuruh turun soalnya ban bisnya gembes, ya akhirnya turunlah semua penumpang yg entah kenapa hari ini penuhnya melebihi kapasitas. Ternyata dibelakang udah standby bis Elang baru yang AC, wow! Pasti lebih nyaman tapi hey, penumpangnya banyak, gue harus berjibaku dengan perempuan-perempuan seusia gue demi memperebutkan kursi Pewe di Bis Maha nyaman ini.
Seperti yang bisa diduga, dalam setiap pertempuran ketangkasan adu-cari-tempat-duduk ini gue selalu kalah, dan akhirnya gue dapet duduk di kursi PALING BELAKANG. Tadinya gue gak begitu memperhatikan kehadiran cowo disebelah gue, yang akhirnya gue sadar cowo itu sama-sama berebutan naik bis sama gue tadi, tapi akhirnya dia ngalah dan mempersilahkan gue dan cewe-cewe untuk naik duluan (oh so gentlemen).
Karena males berebutan kursi, akhirnya gue cuma menjangkau kursi yang dekat dari jarak gue, kursi paling belakang yang sebelah gue adalah babeh-babeh yang sedang menelepon manja. Dalam hati "shit, salah duduk ini ya" ditengah kegelisahan salah ambil posisi tiba-tiba sebelah gue duduklah si mas-oh-so-gentle barusan. Auranya positif; putih, bersih, tinggi, wangi lagi. Dari apa yang gue curi pandang, doi lumayan good looking, and yes blessing me he sit beside me, mepet pula, yahii! (Sifat cunihin gue mendadak muncul)
Yang namanya gue, pasti selalu clumsy. Gak sama orang yang disuka aja, sama siapapun kalo situasinya canggung, gue suka kikuk sendiri. Gue merasa apa yang gue lakukan salah dan jelek, jadinya gue sering sekali merubah posisi duduk, tangan dan kaki in order to get the comfortable position. Gue seneng, dalam hati gue ngarep "semoga mas ini juga turun di leuwi, terlebih naik Primjas bareng sampe bekasi.." Doa gue begitu berlebihan siang itu. Semua berjalan begitu menyenangkan, dalam jarak 1km gue duduk nyaman sambil mencium aroma surga, tapi untung tak dapat ditolak malang tak dapat di hadang, mungkin karena sifat dia yang oh-so-gentle dia kembali ngasih duduk ke bapak-bapak tua yang emang sih lebih membutuhkan. "What, ini gak mungkin gue udah dalam posisi the best inih, kenapa tiba-tiba harus..." Ah nggak banget sekarang sebelah gue bapak-bapak yang entah kenapa duduknya semakin makan tempat.
Yaaah, sekarang dia berdiri dan membelakangi gue. Pas dia duduk aja gue gak berani ngeliat mukanya kayak apa, lah sekarang pandangan gue dihiasi dengan punggungnya doang (hell!). Yaah sepanjang perjalanan sampe gue turun sih begitu aja. Harapan untuk turun dan sebis di Primjas harus pupus begitu saja karena ternyata dia turun sesudah gue.
Begitu mengetahui kejamnya kenyataan gue shock, haruskah orang-orang good looking cuma lewat gitu aja di hari-hari gue tanpa ada bekasnya sama sekali? #eaaa. Fin, selesai. Cerita ini jika difilmkan tidak akan bagus hasilnya --
Kamis, 03 November 2011
Payung. Ilang. Sedih
Kalau sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga...
Setelah pertama-tama gumbira dengan membawa sejuta kenangan setelah berwisata ke Bali tapi masih aja ada yang ganjel, gue masih belum bisa melepas kepergian payung gue yang hilang di salah satu rumah makan kecil Bedugul. Astagaaa~ itu bener-bener payung kesayangan gue, payung (yang dibilang orang) mahal dengan berbagai fitur dan kelebihan yang oke untuk seonggok payung. Payung yang setiap hari gue taro di tas yang menemani setiap perjalanan bolak-balik kampus-kosan sampe keluar kota. Payung yang selama ini gue anggap cuma sebagai payung biasa yang berfungsi menaungi gue dari basahnya hujan ternyata makin kesini gue makin menyadari bahwa payung gue itu spesial.
Dari segi warna dan motif, payung berwarna putih gading bermotif polkadot kecil warna-warni mengesankan bahwa pemiliknya seorang yang polos dan ceria, sedangkan dari bentuknya, payung minimalis tersebut hanya mampu menaungi satu orang saja saat hujan, walaupun sering dibilang payung egois, tapi tetep aja payung tersebut dapat mengatakan kepada orang yang numpang payungan secara implisit untuk membawa payung sendiri dari rumah dan tidak ikut-ikutan nebeng payung orang lain. Sedangkan kerangka besinya sangat kuat dan ringan, jadi kalau dibawa sama sekali nggak kerasa berat di tas. Pernah suatu saat Jatinangor dilanda hujan lebat dan angin semi badai, payung itu telah lolos uji dengan berhasil menaungi gue tanpa penyok sedikitpun sampe tempat tujuan.
Walaupun sekarang udah ada payung pengganti, semua nggak bisa gantiin payung yang sebelumnya. Walaupun yang sekarang payungnya lebih besar dan dapat muat banyak, tapi payung sekarang lebih berat dan susah buat di kait (payung lipat). Walaupun udah dicari yang kayak sebelumnya tapi gue gak bisa nemu lagi payung yang model dan motif payung polkadot tea. Sampe sekarang gue masih kebayang kenapa bisa sampe maha pikun kayak gitu ninggalin payung ditempat orang. Pasti orang yang nemuin payung itu sangat beruntung soalnya payung itu belom rusak barang secuilpun. Kalau cuma ketinggalan di Kampus atau di Bandung mungkin masih sempet gue usahain supaya nemuin lagi, tapi ini ilang di Bali, yang kesananya aja mesti naik-turun pesawat, ditambah mesti di rumah makan kecil di daerah Bedugul.
Pokoknya, kalau payung itu bisa baca tulisan ini,
tu me manques. vraiment...
bahwa kehadirannya sungguh berharga...
Setelah pertama-tama gumbira dengan membawa sejuta kenangan setelah berwisata ke Bali tapi masih aja ada yang ganjel, gue masih belum bisa melepas kepergian payung gue yang hilang di salah satu rumah makan kecil Bedugul. Astagaaa~ itu bener-bener payung kesayangan gue, payung (yang dibilang orang) mahal dengan berbagai fitur dan kelebihan yang oke untuk seonggok payung. Payung yang setiap hari gue taro di tas yang menemani setiap perjalanan bolak-balik kampus-kosan sampe keluar kota. Payung yang selama ini gue anggap cuma sebagai payung biasa yang berfungsi menaungi gue dari basahnya hujan ternyata makin kesini gue makin menyadari bahwa payung gue itu spesial.
Dari segi warna dan motif, payung berwarna putih gading bermotif polkadot kecil warna-warni mengesankan bahwa pemiliknya seorang yang polos dan ceria, sedangkan dari bentuknya, payung minimalis tersebut hanya mampu menaungi satu orang saja saat hujan, walaupun sering dibilang payung egois, tapi tetep aja payung tersebut dapat mengatakan kepada orang yang numpang payungan secara implisit untuk membawa payung sendiri dari rumah dan tidak ikut-ikutan nebeng payung orang lain. Sedangkan kerangka besinya sangat kuat dan ringan, jadi kalau dibawa sama sekali nggak kerasa berat di tas. Pernah suatu saat Jatinangor dilanda hujan lebat dan angin semi badai, payung itu telah lolos uji dengan berhasil menaungi gue tanpa penyok sedikitpun sampe tempat tujuan.
Walaupun sekarang udah ada payung pengganti, semua nggak bisa gantiin payung yang sebelumnya. Walaupun yang sekarang payungnya lebih besar dan dapat muat banyak, tapi payung sekarang lebih berat dan susah buat di kait (payung lipat). Walaupun udah dicari yang kayak sebelumnya tapi gue gak bisa nemu lagi payung yang model dan motif payung polkadot tea. Sampe sekarang gue masih kebayang kenapa bisa sampe maha pikun kayak gitu ninggalin payung ditempat orang. Pasti orang yang nemuin payung itu sangat beruntung soalnya payung itu belom rusak barang secuilpun. Kalau cuma ketinggalan di Kampus atau di Bandung mungkin masih sempet gue usahain supaya nemuin lagi, tapi ini ilang di Bali, yang kesananya aja mesti naik-turun pesawat, ditambah mesti di rumah makan kecil di daerah Bedugul.
Pokoknya, kalau payung itu bisa baca tulisan ini,
tu me manques. vraiment...
Le paresseux peut changer devenir la maladie!
Hari ini, masih berkutat dengan tugas kuliah, yang tetap ada sampai kapanpun gue kuliah (yaiyalah). Tugas numpuk, tapi belum ada niat buat mengerjakannya. Hmm, kadang suka nanya, kenapa gue ngambil kuliah ini, sastra perancis. Belajar membaca, menulis dan mengerti apa yang terkandung dalam bahasa dan budaya negeri victor hugo tersebut ternyata sangat susah, terlebih buat para debutant (pemula) yang sebelumnya nggak punya basic sama sekali tentang bahasa ini. Perkuliahan tata bahasa atau bahasa gaulnya grammar, dan apa itu ya tuhan, semua benda yang mempunyai jenis kelamin! Gimana bisa tau tuh benda berjenis jantan atau betina belom lagi puluhan tenses berbeda yang bahasa sananya beristilah temps concordance. Beruntunglah indonesia nggak kenal apa yang namanya waktu lampau, waktu sekarang atau waktu masa depan, kalo nggak, mungkin rakyat indonesia lebih memilih berkomunikasi dengan bahasa daerahnya aja karena bahasa nasionanya terlalu sulit untuk dipahami dan dipelajari.
Soal pelafalan, gue emang terpana waktu liat samuel rizal ngomong basa perancis di film nya yg sensasional itu. tapi pada kenyataannya itu SUSAH SEKALI karena apa yang ditulis itu tidak sama dengan apa yang diucapkan. Huruf R dibaca lebih ngegigit serta suara sengau yang (katanya) banyak orang bilang itu sexy. Jurusan ini jg terkenal sebagai jurusan yang paling sulit untuk meluluskan mahasiswanya. apakah itu benar? Tapi itu semua nggak terlepas dari niat dan kerajinan mahasiswa itu sendiri sih. Kadang gue sendiri ngerasa paling bego dikelas. Tapi dipikir-pikir lagi gapapa sih, pinter bukan jaminan lulus cepet kan. "Orang bodoh mesti rajin" quotes itu yang masih gue pegang sampe sekarang karena ungkapan klasik bilang kalo orang itu pada dasarnya nggak ada yang bodoh, tapi mereka ketinggalan karena mereka malas. Pertanyaannya, bagaimana cara menyelesaikan masalah malas ini? malas ngerjain tugas, males kuliah pagi, males baca buku pengantar kuliah, kerjaannya internetan terus. Sampe sekarang gue belom nemu jawaban atas pertanyaan gw diatas...
Langganan:
Postingan (Atom)