Minggu, 06 November 2011

tidak seindah kisah di FTV, kawan!

Jumat emang hari yang bikin maleeeees banget buat ngapa-ngapain, well mungkin emang guenya aja yah yang males, but hey! Thank god it's friday. Hidup gue emang selalu dengan rencana. Diotak gue sibuk untuk memprogram hari esok dengan pelbagai rencana-rencana matang, tapi hasilnya, keesokan harinya hanya 20% dari peta rencana yang berhasil dijalankan.

Kemarinnya sih gue berinisiatif untuk pergi ke perpus jumat pagi dan berdiam diri disana sekitar 2-3 jam untuk mencari referensi skripsi. Namun apa daya, rencana tinggal rencana, gue bangun kesiangan dan kondisi badan gue pagi ini lumayan lemes. Walhasil jumat pagi hanya diisi dengan bangun-kamar mandi-beli sarapan- buffering-buffering-ngenet sampe siang. Sungguh tidak produktif sekali diriku kawan!

2 hari lagi kan Lebaran Haji, makanya minggu ini gue berpikir buat balik lagi ke bekasi. Itu sih sebenernya bukan rencana, bisa dibilang dadakan malah. Dan setelah jam 12 gue bersiap berangkat ke Leuwi Panjang. Cuaca siang ini mendung sedikit gerimis, tapi gue tetap melangkah pasti menuju pangkalan Damri. Kesan pertama gue adalah "woanjiiir, dapet damri kaleng deui!" Tapi yah mau namanya nasib, udah leha-leha duduk lucu di pojok bis, tiba-tiba disuruh turun soalnya ban bisnya gembes, ya akhirnya turunlah semua penumpang yg entah kenapa hari ini penuhnya melebihi kapasitas. Ternyata dibelakang udah standby bis Elang baru yang AC, wow! Pasti lebih nyaman tapi hey, penumpangnya banyak, gue harus berjibaku dengan perempuan-perempuan seusia gue demi memperebutkan kursi Pewe di Bis Maha nyaman ini.

Seperti yang bisa diduga, dalam setiap pertempuran ketangkasan adu-cari-tempat-duduk ini gue selalu kalah, dan akhirnya gue dapet duduk di kursi PALING BELAKANG. Tadinya gue gak begitu memperhatikan kehadiran cowo disebelah gue, yang akhirnya gue sadar cowo itu sama-sama berebutan naik bis sama gue tadi, tapi akhirnya dia ngalah dan mempersilahkan gue dan cewe-cewe untuk naik duluan (oh so gentlemen).

Karena males berebutan kursi, akhirnya gue cuma menjangkau kursi yang dekat dari jarak gue, kursi paling belakang yang sebelah gue adalah babeh-babeh yang sedang menelepon manja. Dalam hati "shit, salah duduk ini ya" ditengah kegelisahan salah ambil posisi tiba-tiba sebelah gue duduklah si mas-oh-so-gentle barusan. Auranya positif; putih, bersih, tinggi, wangi lagi. Dari apa yang gue curi pandang, doi lumayan good looking, and yes blessing me he sit beside me, mepet pula, yahii! (Sifat cunihin gue mendadak muncul)

Yang namanya gue, pasti selalu clumsy. Gak sama orang yang disuka aja, sama siapapun kalo situasinya canggung, gue suka kikuk sendiri. Gue merasa apa yang gue lakukan salah dan jelek, jadinya gue sering sekali merubah posisi duduk, tangan dan kaki in order to get the comfortable position. Gue seneng, dalam hati gue ngarep "semoga mas ini juga turun di leuwi, terlebih naik Primjas bareng sampe bekasi.." Doa gue begitu berlebihan siang itu. Semua berjalan begitu menyenangkan, dalam jarak 1km gue duduk nyaman sambil mencium aroma surga, tapi untung tak dapat ditolak malang tak dapat di hadang, mungkin karena sifat dia yang oh-so-gentle dia kembali ngasih duduk ke bapak-bapak tua yang emang sih lebih membutuhkan. "What, ini gak mungkin gue udah dalam posisi the best inih, kenapa tiba-tiba harus..." Ah nggak banget sekarang sebelah gue bapak-bapak yang entah kenapa duduknya semakin makan tempat.

Yaaah, sekarang dia berdiri dan membelakangi gue. Pas dia duduk aja gue gak berani ngeliat mukanya kayak apa, lah sekarang pandangan gue dihiasi dengan punggungnya doang (hell!). Yaah sepanjang perjalanan sampe gue turun sih begitu aja. Harapan untuk turun dan sebis di Primjas harus pupus begitu saja karena ternyata dia turun sesudah gue.

Begitu mengetahui kejamnya kenyataan gue shock, haruskah orang-orang good looking cuma lewat gitu aja di hari-hari gue tanpa ada bekasnya sama sekali? #eaaa. Fin, selesai. Cerita ini jika difilmkan tidak akan bagus hasilnya --

Tidak ada komentar:

Posting Komentar