Kamis, 03 November 2011

Payung. Ilang. Sedih

Kalau sudah tiada baru terasa
bahwa kehadirannya sungguh berharga...

Setelah pertama-tama gumbira dengan membawa sejuta kenangan setelah berwisata ke Bali tapi masih aja ada yang ganjel, gue masih belum bisa melepas kepergian payung gue yang hilang di salah satu rumah makan kecil Bedugul. Astagaaa~ itu bener-bener payung kesayangan gue, payung (yang dibilang orang) mahal dengan berbagai fitur dan kelebihan yang oke untuk seonggok payung. Payung yang setiap hari gue taro di tas yang menemani setiap perjalanan bolak-balik kampus-kosan sampe keluar kota. Payung yang selama ini gue anggap cuma sebagai payung biasa yang berfungsi menaungi gue dari basahnya hujan ternyata makin kesini gue makin menyadari bahwa payung gue itu spesial.

Dari segi warna dan motif, payung berwarna putih gading bermotif polkadot kecil warna-warni mengesankan bahwa pemiliknya seorang yang polos dan ceria, sedangkan dari bentuknya, payung minimalis tersebut hanya mampu menaungi satu orang saja saat hujan, walaupun sering dibilang payung egois, tapi tetep aja payung tersebut dapat mengatakan kepada orang yang numpang payungan secara implisit untuk membawa payung sendiri dari rumah dan tidak ikut-ikutan nebeng payung orang lain. Sedangkan kerangka besinya sangat kuat dan ringan, jadi kalau dibawa sama sekali nggak kerasa berat di tas. Pernah suatu saat Jatinangor dilanda hujan lebat dan angin semi badai, payung itu telah lolos uji dengan berhasil menaungi gue tanpa penyok sedikitpun sampe tempat tujuan.

Walaupun sekarang udah ada payung pengganti, semua nggak bisa gantiin payung yang sebelumnya. Walaupun yang sekarang payungnya lebih besar dan dapat muat banyak, tapi payung sekarang lebih berat dan susah buat di kait (payung lipat). Walaupun udah dicari yang kayak sebelumnya tapi gue gak bisa nemu lagi payung yang model dan motif payung polkadot tea. Sampe sekarang gue masih kebayang kenapa bisa sampe maha pikun kayak gitu ninggalin payung ditempat orang. Pasti orang yang nemuin payung itu sangat beruntung soalnya payung itu belom rusak barang secuilpun. Kalau cuma ketinggalan di Kampus atau di Bandung mungkin masih sempet gue usahain supaya nemuin lagi, tapi ini ilang di Bali, yang kesananya aja mesti naik-turun pesawat, ditambah mesti di rumah makan kecil di daerah Bedugul.

Pokoknya, kalau payung itu bisa baca tulisan ini,
tu me manques. vraiment...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar