Bali, siapa sih yang gak kenal kota budaya ini? siapa yang gak ngarep bisa menghabiskan masa liburannya disini? dari orang-orang domestik sampai internasional suka pergi kesini. Tapi bagi gue dan sebagian besar temen-temen gue, Bali adalah suatu impian, karena apa? karena kita belum pernah pergi kesana (duh, kasian amat ya!?) dan setelah mengalami beberapa wacana panjang tentang liburan, salah satu temen gue mengusulkan kalo tahun ini bali menjadi destinasi liburan kita.
Dimulai dari iseng-iseng buka situs maskapai penerbangan, kita tilik-tilik tanggal dan harga dan voila, kita nemu sesuatu yang sesuatu banget, HARGA PROMO MASKAPAI. Segera kita booking dan setelah menjalani proses pemesanan yang cukup riweuh, akhirnya tiket kita kesana confirmed untuk 9 orang untuk tanggal 5 oktober 2011. Dan untuk travel, blessing us, setelah googling berhari-hari, akhirnya kita nemu salah satu travel yang harganya cukup manusiawi. Dengan harga sekian (gak dibilang, takut dikira sombong) kita udah bisa booking travel beserta akomodasi selama 4 hari 4 malam
Seringnya sih gue baca status temen-temen deket gue yang isinya, "Oktober, cepatlah datang!", " yeay! ready for 5 oktober" atau "Bali, we're coming!' yah kira-kira sih begitu. gue sendiri juga termaksud orang-orang yang gak sabaran, soalnya kita tuh udah ngarep-ngarep pengen liburan dari bulan Maret, setelah 7 bulan nunggu-nunggu cemas akhirnya saat yang diharapkan tanggal 5 oktober yang merupakan titik pengharapan itu akhirnya tiba juga. Namun ada satu hal yang mengganjal, salah satu temen gue batal ikut karena satu dan lain hal. Tapi itu tidak masalah, karena satu temen gue lagi mau ikut dan gantiin biaya tiket dia
yah, yang namanya juga terlalu excited banget, jadi kita gak kepikiran kalo segala sesuatu itu pasti mempunyai 2 sisi. Kita terlalu semangat dan gembira sampai gak memikirkan sesuatu yang diluar ekspetasi. salah satu insiden yang sedikit mengotori kegembiraan liburan-bali ini adalah seorang temen gue datang terlambat pas mau take-off. Yah yang namanya nunggu siapa sih yang gak kesel? tapi kan siapa juga yang ngarep semuanya bakal kayak gitu, setelah nunggu hapir setengah jam dari jadwal keberangkatan, temen gue itu datang juga. Tapi cobaan gak berhenti sampai disitu. Masih ada hal lain yang menghadang *jeng jeng*
Pas mau check-in pesawat, ternyata salah satu temen gue (yang gantiin temen gue yang cancel) gak dibolehin masuk sama petugas airportnya. petugasnya itu tengilnya banget, dia ngomong sembari ngebentak, ya gak aneh semua penumpang pesawat lain ngeliatin kita bingung-bingung acuh. Si petugas-jutek itu keukeuh ngomong semi ngebentak gitu. Akhirnya temen gue itu milih gak naik pesawat bareng kita dan ngambil flight yang jam 5 dengan harga tiket hampir 100% dari harga tiket kita. Ya mau apalagi, daripada sia-sia udah rempong-rempong packing, ber-euforia paling semangat terus gak jadi semua kan, ya akhirnya ya terpaksa begitu. Gara-gara kejadian itu sampai-sampai penerbangan pertama kita terlambat. Jadi gak enak ke penumpang lain sih, soalnya pas di bis airport, sampe ada ibu-ibu nanya ke kita soal yang tadi pagi. Dan akhirnya kita terbang dengan perasaan masih mengganjal. pembelajarannya, kita urang sigap dalam mengantisipasi sesuatu diluar ekspetasi.
Sesampainya di Bali, hal yang sangat ditunggu-tunggu, a promise land. kita excited banget sampai di depan pesawat dan di airportnya kita sempet foto-foto (nersis yeuh)
DAY 1: Tanah Lot - Legian - Kuta Beach
Hari yang begitu menengangkan, kenapa? Karena sebagian besar dari kita mempunyai satu kesamaan, ya this is our first time to take a flight. (yah, ketauan ndesonya, kan?). Malam sebelumnya, gue yakin temen-temen gue pada gak bisa tidurnya saking excited dengan perjalanan esok hari, well we can pass that night successfully then. Pagi-pagi banget, kita udah dianterin sama bokapnya denise ke Bandara Hussein Sastranegara. Setelah sekitar 15 menit duduk-duduk cantik sambil nunggu rombongan lainnya dateng, akhirnya mereka satu persatu muncul dengan barang bawaan yang lebih spektakuler disbanding punya gue. Bawaan gue? Cuma sebuah Tas Backpack sedang dan satu tas tangan, simple as hell. Sementara temen-temen gue pada bawa Koper besar yang isinya macem-macem, mulai dari yang penting dari Baju, alat mandi/alat make-up sampai ke alat catok dan keritingan dan Hairdryer.
Insiden kecil terjadi saat kami semua mau boarding pass. Salah satu temen gue belum datang, sementara kita udah disuruh check in pesawat diatas. Panik pastinya, udah diberitau sama suara mbak-mbak operator bandara kalo pesawat dengan nomor penerbangan sekian udah ready dan semua penumpang disuruh masuk. Nggak kebayang paniknya kita waktu itu, beberapa temen sempet kesel sama temen gue yang terlambat itu. Akhirnya kita dihadapkan dengan pilihan, mau batalin perjalanan hanya karena keterlambatan 1 orang, atau tetap teruskan perjalanan hanya dengan 8 orang saja. Akhirnya sebagian dari kami termaksud gue dengan berat hati naik ke tempat check-in pesawat duluan dan ninggalin 2 orang temen gue dibawah dengan alih-alih menunggu temen gue yang terlambat datang.
Ternyata masalah nggak berhenti sampe situ aja. Tepat pas kita mau ke pesawat, temen gue yang terlambat itu datang. Gue kira masalah udah clear dan kita bisa have fun completely di pesawat, ternyata nggak. Salah satu awak bandara dari maskapai penerbangan gue ini ngeselin mampus. Orangnya jutek dan sangar dan kalo ngomong semi ngebentak gitu, tipikal orang yang bakal lo tonjok walaupun cuma denger doi ngomong halo dengan muka oh-so-gentle nya. Dan saat itu gue baru sadar, yang namanya tiket promo-dengan-harga-murah nggak se simple yang gue duga. Tiket kita diperiksa dan divalidasi dengan KTP kita. Gue kira bakal secepat mandi koboy, nggak taunya lama, dan memakan korban. Dia lah temen gue yang gantiin beli tiket dari temen gue yang batal pergi. Si awak bandara itu bersi keras dengan logat juteknya menolak tiket temen gue walaupun dia udah bawa fotokopi KTPnya. Udah segala coba dicoba, tapi tetep nggak berhasil. Well, yang paling amazing kalian tau? Penerbangan kita delay karena kejadian tiket-ditolak-dan-temen-gue-yang-dateng-terlambat-itu. Pertama kali nya naik pesawat den kita udah jadi trouble maker gitu, what a great, huh!
Then, setelah berencana untuk membeli tiket lagi di ticketing, ternyata harga si tiket ke Bali untuk hari itu oh-so-most-expensive lah. Ya, akhirnya dengan berat hati salah satu temen gue meminjamkan uangnya agar temen gue yang satu bisa ikut pergi ke Bali. Keadaan simalakama emang waktu itu. Dan lalu, di pesawat kita duduk lucu sambil berdoa (yah, sekali lagi maklum, ini newbi banget deh K). Nggak terasa 45 menit perjalanan akhirnya pesawat gue nyampe juga di bandara Ngurah Rai – Bali woo-hoo \m/. walaupun seneng, tapi kami juga mikirin nasib temen gue yang akhirnya jadi beli tiket yang maha mahal itu (fyi, dia kebagian flight yang jam 5 sore). Pas nyampe, kita bla-blo gitu karena most of us ini juga baru pertama kalinya pergi ke Bali. Sesampainya di luar bandara, eh masa kita ketemu temen sekelas kita disitu. Alih-alih pergi jauh, eh ketemunya masih sama temen sekelas juga yah.
Setelah nunggu sekitar 15 menitan, pak guide yang kita tunggu akhirnya datang, lelaki 30 something (kayaknya) memakai ikat kepala khas Bali datang nyapa kita (well, rada telat sih) tapi nggak apa-apa, toh akhrinya dia datang juga kan. Pas mau jalan menuju mobil travel, kita ber 8 disambut oleh cewe ayu asli Bali memakai kebaya khas dan mengalungkan kalung bunga kepada kami. Agak malu emang, ya Cuma gimana lagi, kalo dilepas kan kesannya kayak gak menghargai gitu, akhirnya selama jalan di parkiran, semua mata pengunjung bandara menatap kita lekat-lekat.
Voila, kita udah di dalam mobil travel yang nyaman dan adem banget. Yah yang namanya tour guide untuk mencoba beramah tamah si bli wayan ini mencoba member tahu identitas dirinya dan si pak sopir yang belakangan diketahui bernama bli gus.ar. Nggak sampe situ aja, ngeliat kita yang begitu excited dengan kota ini, bli wayan mencoba memberi tahu sejarah/asal-usul suatu kota dan sejarah patung2 yang kita liat dijalan. Cuaca di Bali saat itu menyenangkan banget, nggak panas dan nggak ujan juga. Destinasi pertama kami adalah ke Tanah Lot. Gue nggak punya gambaran apapun tentang tempat ini, karena sebelumnya gue terlalu sibuk packing dibanding googling tentang tempat wisata yang akan gue tuju di Bali.
Sampai Tanah Lot, cuacanya panas banget-banget. Mulailah human nature kita keluar, baru sampai gerbangnya aja kita udah mulai foto-foto, mungkin dalam ati si bli dia bilang “nih cewek-cewek kece ternyata narsis juga ya” hahaha. Oiya tanah lot itu adalah sebuah Pura yang terletak diatas bongkahan batu dan di bawahnya itu air laut. Kalo sedang pasang sih bisa-bisa sedada orang dewasa, but thank god pas kita dating laut sedang surut, jadi kita bisa ketempat air suci yang mana didalamnya kita bisa cuci muka, minum airnya dan memasang harapan (tapi cerobohnya gue lupa memanjatkan harapan disitu, yang gue inget cuma gimana cara supaya gue sampe tempat itu dengan selamat tanpa kepeleset sedikitpun). Sebenernya gue pengen banget bisa ke atas (pura) itu, tapi ternyata nggak boleh, cuma orang-orang yang berdoa disana aja yang boleh, sedangkan para turis nggak. Well then, gue dan kengkawan Cuma berfoto-foto lucu sebagai bekal dokumentasi yang kelak akan dijadikan bahan pameran buat temen-temen yang nggak ikut kesana.
Chus, selesai dari Tanah Lot, kita lapar bukan main, pas si bli ngasih tau kalo siang ini kita akan lunch di Chinese Restaurant, kita sempet yang liat-liatan gitu. “nggak salah nih restaurant china?”, “eh, halal nggak nih?” dsb adalah reaksi kita yang bisa terpancar dari aura pandangan kita. Pas sampe di restaurant yang dituju, tempatnya cukup bersih dan nyaman, kita makan dengan suguhan gulai ikan, lumpia, kangkung balacan dan tumis ayam. Setelah dicoba ternyata enak, dan seketika buyarlah keraguan gue akan restaurant cina ini. dalam hati gue bilang “nggak apalah ya kalo gue gak tau ini halal apa nggak, yang penting udah baca bismilah sebelum makan” (oke, ini sotoy abis jangan ditiru :p).
Pufft, sampe juga di hotel tempat kita nginep. Disini gue sekamar sama Rita dan Delvi. Sayangnya si Delvi adalah temen gue yang tiketnya dibatalin itu, walhasil sampe sore gue Cuma berdua doang sama rita di kamar hotel. Jam 2an temen gue udah jalan duluan ke Legian buat shoppa-holla. Gue pun nggak ketinggalan, pas jam setengah 3 kita berlima, gue rita, denis, dea, dan resti nekad untuk berpetualang ke Legian dengan destinasi akhir pantai Kuta. Kita bener-bener awam banget tentang Bali, akhirnya kita nyetop taxi dan zep-zep-zep 5 menit kemudian kita udah sampai di jalan Legian. Menurut informasi temen gue yang udah jalan duluan kesana, it takes only 15 menit by walk to get to Kuta, so we walk step by step dengan kadang-kadang ada mas-mas disana yang goda-godi gitu (god, ini sama aja kayak gue jalan di tanah abang) shock lah, gue kira orang disana nggak senorak itu kalo ngeliat cewe-cewe jalan. Baju gue dan temen-temen bisa dibilang sopan kok, but why you behave like that guys?
“aduh, ini masih jauh nggak sih?”, “15 menit ya? Perasaan tumit kaki gue udah kapalan nih jalan nggak nyampe-nyampe” “aduh pinggang gue mau patah nih, mana sih pantainya?” yak, itu adalah sebagian komentar gue dan temen-temen gue yang udah exhausted jalan hampir 1 jam. Dari muka kita yang masih berseri-seri karena mau cumasagil (cucimata sampe gila) di Kuta, sampe dengan muka demek binti bengep karena kecapean, voila akhirnya kita nyampe pantai Kuta juga (dan baru gue tau, kenapa gue mesti turun di Jalan Legian, kenapa nggak langsung turun di depan pantainya aja, ternyata kan bisa, what a stupid yes, hahaha)
Sampe pantaiiii~! Udah hamper jam 6 waktu Bali, which means we can’t see sunset. It’s okay then, yang penting kita berlima bisa bercandaan bareng dipinggir pantai nikmatin angin sepoi-sepoi. Ooh, initoh pantai yang jadi banyak inspirasi lagu semacam lagu Ebiet G ade dan Andre hehanusa, yah walopun gue belom bisa nemuin perbedaan besar antara Kuta dan Batu Karas, we enjoyed it. Gosh, kita hampir lupa mau jemput temen gue yang terlambat itu di Bandara. Well, bermodalkan taxi lagi kita ke Bandara. Taxi yang kita naikin itu supirnya baik banget. Dia ngasih tau info-info yang berguna buat kita yang nubi ini selama di Bali. Then, sampai lah kita di Bandara dan si Delvi pun sampe dengan selamat dari pesawat oh-so-mahal nya itu. Bfft. We’re terribly exhausted then we should get to our room to take some rest. Sleep well girls, tomorrow will be more and more strenuous for us. J
DAY 2: Gianyar - Kintamani - Tirta Empul - Sukowati
Bangun tidur kuharus ngantri, ngantri lagi ke kamar mandi, mengingat kita 3 cewe yang walaupun bisa dibilang mess-up girl, Cuma tetep aja, untuk hari kedua di Bali ini kita pengen tampil all out and full of impression. Karena itu, pagi-pagi bener-bener jadi hectic moment buat kita, dan trust me guys, cewe sejati itu kalo mandi lama. Belum pasca mandi, ada yang keramas dan ngeringin rambut, ada yang dressing-up dan bahkan ada yang masih mandi.
It’s breakfast time, hotel kita walaupun sering bermasalah sama toilet dan closetnya (susah di flush bowk! Entah apa yang nyumbat didalamnya), pelayanannya lumayan oke. Sarapan kita sih cuma ada 3 pilihan; Nasi goring dan telur mata sapi, Telur dadar+ roti dan Mie instant plus telor. Untuk menjaga ketahanan tubuh menghadapi hari yang full jalan-jalan, gue memilih nasi sebagai pembuka hari. Cuaca hari ini hujan, banyak yang menyayangkan, tapi berhubung gue si penyuka hujan dan mendung ini nggak mempermasalahkan itu semua, karena kita gak akan kebasahan sedikitpun toh kita naik mobil dan destinasi kita saat ini adalah ke Gianyar, menonton Tari Barong.
Selesai nonton tari barong (which tells the story of the goodness and the sleaziness, symbolize by a Barong as a tiger, it battles with Rangda, the devil of badness. On this battle, no one become a winner, so as in this life, the goodness or the badness exist until now). Kita diajak untuk berbelanja di suatu toko yang menurut gue harganya cukup mahal. Setelah berbelanja basa-basi, kitapun diajak ke sentra pembuatan perak khas Bali yang berada di desa ciluk (yang gue piker harganya harga mahasiswa ternyata nggak). Yang sampe sekarang gue bingung ngapain juga ya mereka (para bli) ngajakin kita buat stop ditoko-toko tersebut.
Lanjut kemudian, destinasi kita ke Kintamani sekarang woo-hoo! Cuacanya sejuk walaupun medan yang dilalui mirip-mirip arah mau ke puncak. Pas nyampe sana pemandangannya bagus, ada danau Batur dan gunung Agung. Setelah puas foto-foto, kita makan siang. Makan siang kali ini sesuatu banget, ala buffet gitu. Restaurannya bersih, makanannya lengkap dan banyak, pas dicoba enak juga dan pelayanannya ramah. Sayangnya gue lupa nama restaurant itu apa. Seperti biasa, sifat anak-kosan gue keluar, gue ambil makanan semuanya dalam porsi lebih sedikit. Lebih ke maruk sih jadinya, tapi nggak apa lah, semua udah tau kejelekan masing-masing jadi ngapain mesti jaim lagi kan.
Oke selesai makan siang, tujuan kita selanjutnya adalah ke Pura Tirta Empul. Disini cukup unik, kita dilarang masuk puranya kalo gak pakai baju adat (kalo turis bisa masuk kalo pake kain hingga menutupi setengah betis). Dan yang paling penting yang perempuan kalo lagi halangan dilarang masuk, so then beberapa temen gue nunggu diluar Karena tidak diperkenankan masuk. Sampe di dalam, masyarakat sana sedang berdoa, rada nggak enak sih, mereka lagi berkomunikasi dengan tuhan dan membutuhkan ketengangan, malah banyak turis yang foto-fotoin mereka, jadi gak hening lagi kan. Untungnya gue dan beberapa temen yang masuk bisa jaga kenyamanan pura. Oh iya disana ada pancuran air yang bisa berkhasiat loh, bahkan masyarakat disana mandi dan membawa sebagian air untuk diambil berkahnya.
Waktu telah menunjukan pukul 4 sore waktu Bali. Setelah selesai, destinasi kita selanjutnya adalah Sukowati. Sentra oleh-oleh Bali yang (katanya) terkenal akan kemurahannya. Setelah berbelanja dengan berargumen pendapat dengan penjualnya (baca: nawar) akhirnya dapet beberapa oleh-oleh untuk saudara dan ponakan. Gue nggak lama disana, emang dasarnya gue adalah orang yang gak bisa nawar, jadinya gue paling nggak bisa stand up di pasar lama-lama. Setelah nunggu sebagian temen gue yang masih belanja disitu, gue masuk mobil dan dijalan gue ngeliat masyarakat sekitar pasar Sukowati tersebut sedang berjalan dengan membawa pelbagai sesaji dan kain, mereka semua berbaju, berikat kepala dan berkebaya putih khas Bali, rupanya mereka sedang melakukan upacara adat. Seketika mbak-mbak yang jualan disana heboh dan ikut menonton parade tersebut.
Setelah selesai berbelanja, kita berbelanja lagi, karena ada temen gue yang rupanya sedari tadi nggak ikutan belanja. Walhasil, kita berhenti di destinasi kita selanjutnya yaitu Kresna, Ini kayak Carrefour gitu yang jualnya barang-barang dan cinderamat akhas Bali. Soal Harga sih yah bisa dibilang lumayan, tapi berhubung duit udah seep bin beak, akhirnya gue cuma bisa ngeliat dengan mupeng barang-barang yang ada disana in the name of Hemat-beb.
Yasudah, Hari kedua di Bali ditutup dengan helaan nafas panjang tanda kecapean dan keluhan patah pinggang hingga kram betis, yes, means we’re no longer young. Untuk gue bertiga yang sekamar, ini merupakan moment untuk jalan-jalan malam di the most famous street in Bali, tapi tuhan mungkin berkehendak lain, ada sesuatu yang menjadikan rencana kita batal. Salah satu temen gue jadi bete karena kita udah terlanjur dress-up tapi nggak jadi. Yasudah malam itu ditutup dengan makan malam disebuah kedai pecel kaki lima. What an up-and-down moment so.
DAY 3: Pura Taman Ayun - Bedugul - Ubud
Hari ketiga adalah hari bebas, dan entah kenapa pagi itu gue sulit bangun. Lemes dan masih ngantuk adalah excuse gue waktu dibangunin si rita. Walhasil gue jadi mandi paling terakhir dan rombongan kamar 107 menjadi yang paling terlambat hadir di meja makan. Walaupun hari ini tanpa panduan bli wayan yah it’s okay karena gue dan teman-teman tetap memakai mini bus dengan bersupirkan bli gus.ar mengelilingi taman ayun, Bedugul dan Ubud hari ini.
Cuaca hari ini bagus kok, cerah berawan tapi pas nyampe di Pura taman ayun, cuaca jadi gak bersahabat sama gue. I mean it’s so mega giga triple hot. I feel like my skin’s gettin burn then, oh-so-lebay then. But I feel very enjoy that place. Meski Cuma jalan-jalan dan ngeliat puranya dari jauh, itu nggak apa-apa cause somehow gue seneng bau dupa dan bunga kenanga yang selalu gue temuin disetiap pura Bali yang kita singgahi (until now, I can smell and remind it anywhere I am).
Cukup keringetan dan bau matahari disana, kita langsung capcus ke Bedugul. Ketempat yang pasti kalian sering lihat, I mean you see that often in side of our 50 ribu rupiah. Yeap! Danau Bedugul dan bangunan puranya yang khas. Cuacanya saat itu mendung, I like it, tapi begitu gue menginjakan kaki di tempat parkirnya, masya-allah itu dingin banget. Seriously dingin banget macam lagi hujan di Tangkuban perahu, figure it? Gue dan teman-teman saat itu sungguh salah kostum men. Kita pake setelan tali satu dan pelbagai baju model handless or beach costumes which we had prepared for the trip. I don’t even know where is Bedugul dan kontur wilayahnya yang ternyata di kaki gunung tersebut. Bermodalkan cardigan tipis, gue mencoba deal with those temperature.
Yeap, tujuan gue dan teman-teman ke Bali selain untuk bersenang-senang dan melepaskan penat adalah mengincar bule-imut-yang-jalan-sendiri. Setelah memancarkan sinyal diseluruh penjuru danau Bedugul, kita nemu sesosok bule (I guess he’s Australian) pae baju kuning sedang berjalan-jalan sendirian. Entah karena dia lagi seneng banget jalanjalan kesana atau karena lagi tebar pesona, kita sering liat dia jalan melewati kita dengan tersenyum simpul, what was that mean? “ini bule minta difoto bareng nih” setelah berkeliling dan akhirnya cape sendiri kita duduk dipelataran pura. Oh iya, si Bule itu beraju kuning, kita menyebutnya dengan sebutan “si kuning”, standard I know. Mata kita berpetualang mencari si Bule kuning berada. Tekad kita bulat mau ngajak tuh bule kenalan atau setidaknya berfoto bareng lah. Tapi kita lupa ternyata pepatah untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, setelah nyari-nyari dimana bule tersebut berada, kita malah dikejutkan dengan datangnya 4 cowo tinggi besar yang berasal dari Nigeria. Gue sih udah curiga,itu 4 orang Nigeria daritadi foto-foto mulu kerjanya, narsisnya melebihi gue dan kengkawan. Dan salah satu dari mereka memakai baju kuning juga lagi. Dan setelah kita rangkai-rangkai daritadi pas kita ngomongin dan nyariin si bule-kaos-kuning, malah dapet orang-Nigeria-kaos-kuning.
Dan yang mengangetkan adalah 4 orang Nigeria tersebut mau berfoto dengan kita, I mean kita cewe-cewe lokal bersembilan ini. Ini fantastis, belum ada orang asing yang minta foto bareng seumur hidup gue. Dimana karisma kita bersembilan coba ya. Setelah foto-foto dan berbasa-basi (2 orang temen gue berfoto berdua dengan Nigerian tersebut) dan pengakuan mereka saat difoto adalah nafas mereka berat banget dan rangkulan mereka juga erat banget. It was random moment aja buat kita. Dan si bule kuning itu, he disappeared.
Holla, pulang dari Bedugul yang baru gue tau ternyata banyak muslim disana, dan untuk pertama kalinya gue denger suara adzan di Bali. Padahal dalam jarak kurang lebih 1 km terdapat masjid juga di deket Pura Bedugul, namun mereka dapat hidup bersebelahan tanpa terlihat ada konflik sedikitpun. Indahnya toleransi umat beragama J. Pulang dari Bedugul dengan berbekal foto bareng 4 nigerians kita mampir di Joger. Nggak sih gue nggak belanja mahal disini, kali ini gue cuma beli souvenir untuk gue sendiri. Setelah selesai shoppa-holla, nggak beberapa jauh dari Joger, kita nemu satu warung muslim, what a great walaupun cuma nyediain Mie Ayam yah lumayan jugal ah buat perut yang udah keroncongan dari pagi. Cuaca saat itu gerimis. Sebenernya gue bukan tipe orang yang heboh sama gerimis. Menurut gue selama hujannya masih bisa ditolerir, gue nggak akan buka paying, tapi entah kenapa saat itu ngeliat temen gue buka paying, gue jadi ikutan padahal ujannya nggak gede-gede amat. Dan hari itu adalah perjumpaan terakhir gue dengan paying gue, yap PAYUNG GUE ILANG, padahal rasa saying gue ke paying itu melebihi rasa saying gue ke mantan-mantan gue, dan sekarang yang tersisa cuma tinggal kain pembungkusnya, aku sedih loh dan sepanjang sore hingga malam gue hanya bermuram durja sambil terus mencoba mengikhlaskan kepergian paying gue:’(.
Coba kalo gue inget-inget, 2 benda gue ketinggalan di Bali. Pertama jepitan-mandi kesayangan gue, masih bagus padahal, sampe kalo ketinggalan dirumah pun gue selalu ambil balik lagi. Pas gue pake waktu itu di Kuta, dan pas sampe taxi gue baru menyadari ilangnya jepitan gue. Kedua ya payung itu yang mana itu juga merupakan payung kesayangan gue. Yah sudahlah mungkin tuhan mengingatkan gue yang kurang bersedekah ini dengan mengambil barang kesayangan gue sebagai pengganti dosa gue. Terus-terusan gue piker begitu sampe akhirnya sekarang gue udah ikhlas.
Lanjut kemudian kita sampe di Ubud. Pernah nonton eat pray love? Gue sih belum, tapi menurut si bli gus.ar, desa ubud ini merupakan desa yang tepat untuk orang-orang yang mencari sarana spiritual dan ketenangan. Sayangnya gue Cuma beberapa menit disini, which means ubud adalah tempat dimana temen gue bisa nyari toilet untuk numpang pipis. Kita tiba disebuah tempat, kayak gazebo besar gitu yang kemarinnya abis dipakai sama acara temu penulis besar. Penulis-penulis jenius macam Andrea Hirata, Djenar maeasa ayu, dll ikut jadi pembicara di acara ini. Sembari nunggu temen-temen gue yang selesai urusan pribadinya di kamar mandi, gue, deadan resti nunggu sambil duduk-duduk imut di dalam gazebo itu. Kesantaian kami dirusak dengan datangnya anjing secara tiba-tiba. Kita bertiga takut anjing dengan level paling parah nyaris phobia adalah Resty. Nggak lucu dimana moment pas lo lagi asik ngobrol tiba-tiba anjing muncul 30cm dari kaki lo, panic attack kita langsung pegangan satu sama lain sambil nunggu anjingnya pergi, dan pas si anjing pergi kita bertiga lari panic sambil teriak dan pegangan. I wonder what in deepest mind of bule-bule there when they saw us running like a crazy person while yelling and holding hand each other. So embarrassed.
Selesai pipis, kita ke salah satu Pura di Ubud, kejenuhan mulai melanda, kita mau ke pantai untuk destinasi terakhir kita di Bali besok. Akhirnya setelah take some photos, kita balik. Nggak, belum balik sih, kita masih usaha cuci mata, dan di depan kita terrnyata terletak Pasar Tradisional Ubud. Dasar wanita, kita akhirnya masuk kesitu dulu sebelum memutuskan balik. Siapa tau nemu yang bagus dan murah mungkin itu pikiran temen-temen gue saat itu. Dan setelah berkeliling melihat, mencari dan menawar, tidak ditemukan apa yang diinginkan, akhirnya kita cabut dari Ubud.
Nah, disini part lucunya. Mau gue ceritain detail juga nggak enak tapi kalo nggak diceritain nggak dapet precious moment juga. Jadi salah satu temen gue orangnya sangat nggak bisa kalo buang hajat ditempat sembarangan/tempat umum, jadilah dia menahan keperluannya tersebut supaya bisa diselesaikan di kamar mandi hotel. Namun nasib enggan berpendapat sama, jarak dari Ubud ke hotel yang terletak di Kuta itu lumayan jauh ditambah jalanan Bali yang unpredictable macetnya sore itu menghambat kepulangan kita ke hotel. Akhirnya temen gue tersebut yang udah kebelet tak kuasa nahan lagi, bruupp… semua terhempas begitu saja. That makes us shock terribly. Suddenly there’s smells bad in the car, mobilnya itu kan pake AC jadi barang siapa yang kentut pun akan langsung berefek mematikan bagi orang-orang yang ada di dalam mobil itu karena nggak ada sirkulasi udara, I mean, udara di dalam mobil bakal holly crap banget, oh gosh I still remind that smells when I write this. Kita dan tentunya temen gue yang punya hajat itu jadi merasa nggak enak karena telah mengotori mobilnya. Hal itu diakali oleh temen gue yang lainnya dengan membeli sebuah parfum, I mean cologne untuk menetralkan bau didalam mobil dan tentu saja menghindari kecurigaan si bli. Ridiculous moment J.
Jam 7 malam waktu Bali, temen gue yang sakit perut tadi dan sebagian temen ingin langsung ke hotel, sedangkan gue dan teman sekamar ditambah nita dan teh niesa kita jalan-jalan malam ke sekitar jalan legian dan kuta. Sebenernya sih nggak malem-malem banget, masih sekitar jam 9an lah, kita menyusuri toko-toko disepanjang jalan legian. Setelah si teteh dapet oleh-oleh buat dia sendiri dan pacarnya, kita makan. Bedanya levelan gue, rita, delvi dan nita cuma makan paket nasi McD, sedangkan teh nisa memilih makan nasi campur di rastauran yang isinya bule semua. Oke direstauran itu menurut si delvi yang daritadi matanya usaha, dia ngeliat ada seorang bule yang duduk dimeja sebelah yang ngeliat kearah meja kita terus. Orang itu nggak buat movement sih, jadi ya kita asik-asik aja ngobrol sambil minum-minum kece disana. Dan saat sampai kita minta bill dan pergi dari restaurant itu, si bule itu baru berani nyapa temen gue. Ternyata orang luar kalo mau ngajakin kenalan masih cupu juga ya, apa kitanya yang kurang menarik ? haha.
Sampai dijalan sebelum naik taxi ada sesosok bule yang mempesona, seriously, dia mirip young Noel Gallagher; model rambut poni ala beatles (bukan ala mangkok), alis tebel, air mukanya juga mirip banget, tinggi, bibirnya merah , oh-so-stunning banget lah. Tapi yah sialnya dialagi bareng cewenya. Dia ada di toko yang gue masukin, sementara si cewenya lagi belanja, dia nunggu sambil ngeliat-ngeliat, dan lagi-lagi gue terlalu malu buat usaha, walhasil gue gagal dapet step lebih jauh sama si Noel. I accept that fail uneasyly. Abis selesai shoppa-holla-cupka-cupka, kita balik ke hotel dengan mengendarai taxi. Nggak ada momen special lagi malam itu, cuma akhirnya delvi dan rita berenang di kolam renang hotel malam itu. Larut malamnya, gue dan mereka bercerita tentang mantan masing-masing. Gara-gara sesi curcol tersebut kita jadi tidur telat, kita baru tidur jam 3 pagi waktu bali dan guess what, we wake up terribly late in the morning. We become the last person who come to the dining room. Pfft.
DAY 4: Tanjung Benoa - GWK - Dream Land - Hussain Sastranegara
Hari keempat which means hari terakhir kita di Bali. Hari ini kita kembali bertemu bli wayan untuk menjadi pemandu. Tapi hari terakhir ini kita disupirin sama adiknya gus.ar, karena beliau berhalangan hadir, sang supir baru ini bernama bli gus.de. Destinasi pertama kita untuk hari ini adalah Tanjung Benua water sport yang ada di Nusa Dua, menurut si bli, Nusa Dua itu adalah tempat bule-bule berduit berada, semakin semangat jadinya. Sesampainya di Tanjung Benoa, hasrat hati pengen coba semua wahana air yang ada mulai dari Flying Fish, Doughnout, scuba diving, sampe banana boat, tapi apa daya duit tak sampai. Emang sih harganya mahal, tapi ternyata bisa ditawar karena kita adalah turis domestik. Tapi tetep aja walopun ditawar, masih jauh dari jangkauan. Akhirnya hanya berempat yang main, denis, nita, teh nisa dan nita. Sisanya ? yah kita nunggu aja dipinggiran.
Setelah selesai ber-water-sport ria di Tanjung Benoa, kita langsung capsus ke GWK. GWK means Garuda Wisnu Kencana. Tempat dimana terdapat patung super gede yang mengsimbolisasikan Dewa Wisnu yang sedang menaiki Burung Garuda sambil membawa sebuah kereta kencana. Awalnya gue mengira kalo patung itu terbuat dari batu, ternyata patung itu terbuat dari perunngu yang dipahat oleh seorang seniman asal Bali yang sedang tinggal dan mengajar di FSRD ITB bandung, beliau adalah I Nyoman Nuarta. Ngeliat maketnya aja dah rumit banget, gimana ngerjainnya ya, nggak kebayang sebesar kalo patung itu udah rampung semua.
Yang paling oke waktu di GWK selain foto-foto adalah kita disuguhi tari khas Bali. Mulai dari tari Pendhet, tari Barong sampai tari Legong semua disuguhi dan mereka begitu amazing, seriously i envy them. Kalau hidup gue bisa diatur 12 tahun lebih awal, gue pengen minta nyokap supaya kursusin gue tari daerah. Kalau sedari kecil udah bisa, pas gede kan pasti udah jago. Lanjut selesai nonton pertunjukan (sayangnya kita nggak nonton tari kecak yang padahal gratisan) kita lunch bareng disekitar GWK. Sistemnya sih emang buffet, tapi macam makanannya lebih dikir disbanding restaurant yang ada di Kintamani. Oke selesai makan, kita melanjutkan perjalanan yang merupakan akhir tujuan kita di Bali, yaitu Dream Land Beach.
Sebelum ke pantai resty dan dea mempersiapkan semua hal dengan baik, bahkan mereka membeli topi anyam bekal property untuk difoto di pantai nanti. Perjalanan kita selalu dibercandain sama si bli gusde, ngebuat perjalanan ke Pantai lebih fun. Lalu, sampai di Dream Land, yah langsung ke Pantainya, I can explain more about this place, it’s wonderful. Pantainya bersih dengan pasir dan air laut yang biru bening. Cuacanya juga bagus nggak panas banget tapi juga nggak mendung banget. Cuma satu hal yang disayangkan, warga sana sedikit mengenal uang, kita sempet bingung sendiri sih waktu mau mesen umbrella, jadi kayak rebutan gitu nawarinnya, ada yang nawarin ini, ada yang nawarin itu, walaupun akhirnya kita make deal sama salah satu mok disana dengan harga sewa 50rb sepuasnya.
Pantai. Dream Land. Amazing. Really. Spotnya bagus buat foto-foto tapi sayangnya rame benget pas kita nyampe. Mungkin karena week-end kali ya. Oh iya sebelum ke Dream Land ini, kita ngelewatin kayak gerbang perumahan gitu. Menurut bli wayan, perumahan itu kalau udah jadi kelak bakal jadi kota satelit pertama di Indonesia, dimana semua yang dicari ada, mulai dari pasar, hypermarket, sport stasion, dan pantai sebagai halaman rumah. Gossip-gossipnya sih proyek ini milik putra mantan orang paling berpengaruh RI. Sebelum sampai di Pantainya kita harus naik Shuttle buat sampai ke dalamnya dan voila akhirnya bener-bener masuk ke Dream Land yang bener-bener dream land. Waktu jadi berasa cepet banget hari itu. Nggak terasa udah hampir 3 jam kita main-main di Pantai, it’s time for us to go to prepare to Airport. Yang gue liat sih banyak timbul raut kekecewaan dari muka kengkawan. Entah bete karena apa tapi yang jelas kepergian kami dari Bali ini lumayan bikin gue cheesy juga. Kita lebih banyak diem pas pulang ini.
Mungkin saking nggak relanya harus Back to reality and leaving such a best holiday moment only in four days, kita jadi diem bengong nggak jelas, keliatan banget perbedaan antara pas momen keberangkatan dan kepulangan. Apa mungkin karena barang bawaan yang menjadi makin berat atau teringat akan hutang masing-masing hingga semua teraduk jadi satu yang mana menimbulkan such an odd feeling in our heart. Pas makan pun walaupun kami mencoba untuk ceria, ada aja tambahan cerita yang tak terduga. Kita makan malem di KFC sambil nunggu pesawat kita yang (katanya) arrive at 20.10 WITA. Saat makan, si delvi kembali menumpahkan sesuatu di KFC, kalo dulu adalah Cream Soup, kali ini dia numpahin 2 orange juice. What a great, she said. Masalah tumpah-menumpah sesuatu sebenernya udah jadi hal lumrah buat kita, ada aja kejadian diluar nalar yang bikin kita sial hingga harus numpahin sesuatu. Gue pun pernah waktu makan di A3 Jatinangor, saking laper dan semangatnya gue numpahin sambel yang tadinya keisi penuh sampe tinggal sedikit. Oke semua pandangan tertuju ke meja gue dan kengkawan sampe-sampe ketawa terbahak, untungnya saat itu harga cabe belum mahal-mahalnya. Sampe sekarangpun kalo ada sesuatu hal tumpah ruah, semua langsung mengaitkannya ke kejadian tumpah-sambel-di-A3, pfft.
Oke, saatnya check-in. setelah selesai scan barang, tuker tiket dan bayar airport text, tak lupa terlebih dahulu kita berpamitan sama para bli. Kali ini pun si delvi nggak bareng satu pesawat lagi bareng kita. Dia naik maskapai penerbangan lain yang kebetulan saat itu ada harga promo tapi ya dia harus rela turun di Airport Soekarno-Hatta sendirian. Dan ini mungkin yang paling disebelin sama pengguna maskapai penerbangan yang satu ini, delaynya nggak nyantai, dan gue baru tau rasanya nunggu delay tuh kayak gini. Udah capek, bete nunggu delay, perasaan masih nggak rela senin udah kuliah lagi membuat kita sensi, kalo ada yang nyolek nggak nyantai langsung mau gue colek pake gagang koper.
Tiba-tiba ada pengumuman tante-information bandara gitu, kalo pesawat udah parkir, ya lanjut kita ngantri menuju gate 16, gate pesawat gue ke Bandung. Setelah menunggu hamper sejam sambil ngantri berdiri, akhirnya gue yang duduk di kursi nomor 14 bersama resty, nita, orin dan the niesya dipanggil duluan. We wonder how come, passanger which has seat number 1 until 5, 12 and 14 please come to the plane first. Yah kira-kira gitu deh yang nomor sekian didahuluin. Naifnya, gue kira gue dapet lucky seat dimana semua orang-orangnya bakal dapet snack sesampainya di Kabin, eh nggak taunya malah dapet kewajiban yang berat banget. Ternyata kursi yang kita dudukin adalah Hot Seat dimana terdapat Pintu darurat. Si Pramugari dan pramugara menjelaskan jikalau terjadi apa-apa di pesawat ini maka buka secara paksa pintu darurat yang menyerupai jendela ini, nasib semua penumpang tergantung dari kita, orang-orang yang duduk di Hot Seat ini jika pesawat ini kenapa-kenapa.
Fiuuh, alhamdulilah landed di Bandung dengan selamat sentausa walaupun disepanjang perjalanan rada goyang patah-patah gitu pesawatnya,dan pas landing, itu kasar banget, nggak seperti pesawat yang kita naikin pas berangkat. Mungkin emang perasaan semua aja yang mellow sampe pesawat yang turbulence kayak gitu kita jadiin excuse bad mood kita. Sesampainya di Bandara Hussain, semua orang tua dari kengkawan gue yang tinggal di Bandung menjemput, bahkan ada yang seluruh keluarganya datang nunggu di Bandara, ya itulah si Orin, dia berasa disambut sehabis pulang naik haji pikirnya. Rita dijemput pamannya, begitupun resty nita dan teh niesya. Sedangkan gue dan dea, sebagai orang rantau (Bekasi dan Jakarta sih) menumpang nginep di tempatnya denis Karena kita sampai waktu itu lumayan udah malam.
That was my long story of holiday in Bali. Walaupun dapet beberapa cobaan, walaupun nggak dapet gandengan bule, walaupun duit abis belanja oleh-oleh, tapi semua terayarkan oleh pengalaman dan sensasi unforgettable. Bali for us, particularly for me, it’s everlasting J.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar